Google akan Buat Mesin Pencari Khusus Tiongkok?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Sabtu, 04 Aug 2018 15:27 WIB
google
Google akan Buat Mesin Pencari Khusus Tiongkok?
Google dikabarkan akan kembali membuat mesin pencari untuk Tiongkok. (AFP PHOTO / LIU JIN)

Jakarta: Google dikabarkan berencana untuk meluncurkan kembali mesin pencari atau search engine mereka di Tiongkok dan mereka akan mematuhi permintaan pemerintah Tiongkok untuk menyensor hasil pencarian.

Pada awalnya, Google mematikan search engine mereka di Tiongkok pada 2010 dengan alasan pemerintah berusaha untuk "membatasi kebebasan berpendapat di internet".

Namun, menurut laporan The Intercept, perusahaan internet raksasa itu kini mau kembali ke negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia.

Menurut dokumen internal yang didapatkan oleh The Intercept dari seorang whistleblower, Google telah mengembangkan versi tersensor dari search engine mereka sejak 2017. Mesin pencari itu memiliki nama kode Dragonfly.

Search engine tersebut dikembangkan sebagai aplikasi untuk Android dan disebutkan akan menghilangkan topik sensitif dan memfilter semua situs yang dilarang oleh pemerintah Tiongkok, termasuk Wikipedia dan BBC News. Penyensoran ini juga akan berlaku untuk fitur pencarian gambar, menurut laporan The Verge.

Di Tiongkok, internet disensor dengan sangat ketat. Apa yang disebut Great Firewall mencegah masyarakat Tiongkok mengakses berbagai situs.

Selain itu, informasi tentang topik seperti agama, kebrutalan polisi, kebebasan berpendapat dan demokrasi juga disensor dengan ketat. Sementara beberapa topik, seperti kemerdekaan Taiwan disensor sepenuhnya.

Berbagai kelompok advokasi menyebutkan bahwa pemerintah Tiongkok semakin ketat dalam menyensor internet di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping. Pemerintah tidak hanya menyensor internet, tapi juga media sosial dan aplikasi chatting.

Sang whistleblower mengatakan pada The Intercept bahwa mereka tidak mau "perusahaan besar dan pemerintah bekerja sama untuk melakukan opresi pada masyarakat kami." Selain itu, dia juga menyebutkan bahwa apa yang terjadi di Tiongkok bisa jadi terjadi di negara lain.

Patrick Poon, peneliti di Amnesty International, setuju dengan pendapat ini. "Jika search engine terbesar di dunia mematuhi penyensoran yang dilakukan oleh Tiongkok, itu adalah kemenangan untuk pemerintah Tiongkok -- ini menunjukkan bahwa tidak ada lagi perusahaan yang akan berusaha untuk melawan penyensoran."


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.