Punya Layanan Ramah Lingkungan, Tiongkok Justru Penuh Tumpukan Sepeda

Cahyandaru Kuncorojati    •    Minggu, 26 Nov 2017 15:51 WIB
teknologi
Punya Layanan Ramah Lingkungan, Tiongkok Justru Penuh Tumpukan Sepeda
Tumpukan sepeda pada penampungan sepeda di kota Xianmen, Tiongkok. Sepeda tersebut merupakan sepeda yang rusak serta sepeda milik layanan bike sharing yang tidak dipergunakan lagi.

Jakarta: Jika di Indonesia layanan ride sharing menggunakan kendaraan motor roda dua dan empat, Tiongkok menggunakan sepeda. Tren ini memang terdengar lebih ramah lingkungan, tapi kenyataannya tidak.

Tren layanan bike sharing di Tiongkok justru menimbulkan masalah baru. Banyak lahan trotoar atau pejalan kaki yang semakin sempit karena dijejali oleh parkiran sepeda dari layanan bike sharing. Masalahnya, kebanyakan penggunanya kemudian menaruh begitu saja ketika waktu sewa sudah habis.

Hal tersebut juga dikeluhkan oleh petugas dari perusahaan bike sharing. Layanan bike sharing menyediakan sepeda yang bisa disewa untuk jangka waktu 30 menit hanya lewat aplikasi di smartphone. Pengguna cukup mengambil sepeda tersebut di halte sepeda yang disediakan.



Layanan bike sharing Tiongkok dikuasai oleh tiga perusahaan besar, Mobike, Ofo, dan Bluegogo. Jelas kompetisi yang terbentuk menjadi siapa yang paling banyak bisa menjangkau setiap kota di negara itu dan menyediakan sepeda paling banyak.

Arogansi dari perusahaan ini justru menambah parah permasalahan yang disebutkan di awal. 3 hari yang lalu Bluegogo divonis bangkrut, penyebabnya jumlah permintaan layanan tersebut tidak sepadan dengan operasional yang sudah dikeluarkan.

Akhirnya, sepeda milik Bluegogo disita dan dikumpulkan di satu tempat penampungan. The Guardian yang sempat mengabadikan tumpukan sepeda-sepeda yang ditampung menjadi sebuah monumen yang melambangkan arogansi dalam menjalankan sebuah bisnis.

Dikabarkan Bluegogo sudah beberapa kali menuai masalah di negara asalnya. Kabar terakhir yang beredar adalah CEO Bluegogo Li Gang melarikan diri dari Tiongkok dengan membawa sisa uang perusahaan. Para pengguna yang masih memiliki deposit di layanan itu tidak bisa menarik uangnya.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.