Aplikasi Kesehatan Apple Jadi Bukti Kasus Pemerkosaan dan Pembunuhan

Cahyandaru Kuncorojati    •    Jumat, 12 Jan 2018 09:10 WIB
apple
Aplikasi Kesehatan Apple Jadi Bukti Kasus Pemerkosaan dan Pembunuhan
Apple Health app merupakan aplikasi kesehatan yang bisa mengetahui kondisi kesehatan serta kegiatan penggunanya.

Jakarta: Semakin banyak aplikasi yang terhubung ke manusia, maka semakin banyak data atau informasi penting yang bisa dimanfaatkan. Contoh kasus terburuknya adalah penyelidikan kasus pemerkosaan dan pembunuhan di Jerman.

Dilaporkan Motherboard yang diterjemahkan dari media lokal di Jerman, kepolisian Jerman telah menemukan bukti untuk memenjarakan tersangka kasus tersebut sudah dimulai sejak bulan September lalu.

Seorang pengungsi di Freiburg Jerman diduga memperkosa dan membunuh seorang siswi berusia 19 tahun. Awalnya, pelaku enggan memberikan passwod iPhone yang digunakannya kepada kepolisian.

Hal ini dilakukan agar kepolisian tidak menemukan data atau informasi yang bisa memberatkan hukuman tersangka. Namun, kepolisian Jerman memilih untuk merekrut sebuah perusahaan yang bisa membobol sistem keamanan iPhone.

Dari situ polisi menelusuri data dari aplikasi kesehatan Apple Health yang memang tertanam langsung di sistem operasi seluruh iPhone sejak iOS 8 dirilis tahun 2014 lalu. Kepolisian Jerman menemukan tidak hanya catatan kegiatan yang dilakukan seperti menaiki tangga tapi juga geolokasi pergerakan sang tersangka.

Setelah melakukan olah TKP rupanya catatan tersebut sangat sesuai, termasuk bagian saat tersangka membawa jasad korban ke sungai untuk dibuang. Alhasil tersangka tidak bisa mengelak lagi karena bukti kejahatannya sudah sangat kuat.

Di balik itu semua, ada permasalah yang juga tidak kalah serius, yakni langkah kepolisian untuk membobol sistem keamanan ponsel tadi. Meskipun langkah ini terbukti sangat membantu penyelidikan kasus kejahatan tapi di kemudian hari bisa saja hal ini dilakukan untuk tujuan yang salah.

Misalnya, merekayasa tuduhan terhadap orang yang tidak bersalah. Pengambilan data yang dilakukan tanpa izin pemiliknya sebetulnya juga termasuk dalam pelanggaran privasi pengguna.

Hal semacam ini bukan pertama kali terjadi. Di Amerika Serikat sendiri. pihak hukum yang berwenang kerap memanfaatkan data di perangkat teknologi yang digunakan oleh korban dan pelaku untuk penyelidikan kasus. 

Bahkan pihak FBI pernah berseteru dengan Apple karena memaksa perusahaan tersebut membuka akses iCloud di iPhone milik pelaku teror penembakan massal. Di satu sisi, hukum juga harus mengikuti perkembangan teknologi dengan mengatur langkah yang tepat penggunaan data pribadi untuk penyelidikan kasus kejahatan agar tidak disalahgunakan.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.