Google akan Buat Peraturan Terkait Proyek Militer

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 31 May 2018 14:19 WIB
googlekecerdasan buatan
Google akan Buat Peraturan Terkait Proyek Militer
Google akan buat panduan terkait penggunaan teknologi di industri senjata. ( AFP PHOTO / LOIC VENANCE)

Jakarta: Banyak pekerja Google yang tidak setuju dengan Project Maven, proyek kontroversial dari Pentagon.

Mereka tidak hanya melakukan protes, tapi juga mengundurkan diri. Ini mendorong Google untuk mengumumkan bahwa mereka akan membuat peraturan etis terkait keterlibatan mereka dalam proyek militer, lapor New York Times

Salah satu peraturan tersebut adalah larangan menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam senjata. Juru bicara Google berkata bahwa perusahaan akan mempertimbangkan masukan dari para pekerja dalam membuat "sejumlah prinsip" terkait keterlibatan mereka dalam proyek pertahanan dan AI.

Project Maven menjadi bahan perdebatan di kalangan eksekutif Google, menurut email internal yang didapat oleh New York Times.

Pada September, dalam sebuah diskusi yang dipimpin oleh Head of Defense and Intelligence Sales, Scott Frohman, Chief Scientist dari Google Cloud dan Head of AI Lab, Stanford, Fei-Fei Li mengungkap kekhawatiran bahwa keterlibatan Google dalam Project Maven akan mengundang protes keras. 

"Hindari pembahasan tentang AI," tulis Li.

"Senjata AI adalah salah satu topik yang paling sensitif. Ini adalah daging empuk bagi media untuk mencari cara untuk merusak Google... Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika media tahu bahwa Google diam-diam mengembangkan senjata AI atau teknologi AI akan membuat senjata untuk industri Pertahanan."

Tidak lama setelah kabar keterlibatan Google dalam Project Maven beredar, CEO Google Cloud, Diane Greene menjawab beberapa pertanyaan terkait Project Maven dalam salah satu pertemuan akhir pekan Google. Begitu juga dengan salah satu pendiri Google, Sergey Brin.

Menurut New York Times, Brin telah berbicara dengan Larry Page, CEO Alphabet, perusahaan induk Google dan CEO Google Sundar Pichai. 

Seiring dengan semakin kerasnya protes karyawan Google, Greene memutuskan untuk mengadakan diskusi terkait Project Maven, keterlibatan Google di dalamnya dan etika penggunaan AI.

Sayangnya, diskusi ini gagal menenangkan hati para karyawan Google yang merasa telah dikhianati oleh perusahaan tempatnya bekerja. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.