Ini Langkah Tik Tok Agar tak Diblokir Lagi di Indonesia

Lufthi Anggraeni    •    Rabu, 04 Jul 2018 20:29 WIB
kominfo
Ini Langkah Tik Tok Agar tak Diblokir Lagi di Indonesia
Tik Tok akan menambah anggota tim pengawas konten aplikasinya di Indonesia menjadi 200 anggota hingga akhir 2018.

Jakarta: Salah satu komitmen Tik Tok disampaikan adalah memperketat penyaringan terkait dengan konten yang tersedia di aplikasinya, dengan meningkatkan anggota tim pengawas konten. Tik Tok mengaku saat ini baru memiliki sebanyak 20 anggota tim pengawas konten di Indonesia.

"Saat ini, kami sudah memiliki 5.000 anggota tim pengawas konten di seluruh wilayah pengguna aplikasi kami. 20 di antaranya ada di Indonesia. Kami akan meningkatkan jumlah anggota tim hingga 200 anggota, hingga akhir tahun di Indonesia," ujar Senior Vice President Corporate Strategy Beijing Bytadance Technology Zhen Liu.

Selain itu, Tik Tok juga berkomitmen untuk meningkatkan batas usia minimal pengguna aplikasinya, dari 12 tahun hingga 16 tahun.

Peningkatan batas usia ini disebut Liu sebagai salah satu langkah yang akan dilakukan Tik Tok untuk memenuhi permintaan pemerintah, serta menghormati nilai budaya yang ada di Indonesia.

Peningkatan batas usia ini disambut baik oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, meski dinilai juga memiliki dampak negatif bagi pengguna anak-anak.

Menurut Rudiantara, jika batas usia yang ditetapkan terlalu tinggi, akan menyulitkan generasi muda Indonesia untuk menyalurkan kreativitas mereka.

"Di sisi lain, penetapan batas usia terlalu rendah juga akan berdampak negatif, seperti yang saat ini terjadi, terlebih kalau anak-anak ga dibekali dengan edukasi dan literasi yang cukup. Tapi ini juga sudah dibahas di pertemuan tadi," ujar Rudiantara saat ditemui bersamaan dengan perwakilan Tik Tok.

Rudiantara menyebut bahwa Tik Tok turut upaya untuk mengedukasi anak-anak melalui program khusus.

Namun, Rudiantara mengaku tidak bisa langsung menyetujui program tersebut, karena perlu melakukan koordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Sementara itu, Tik Tok mengaku juga akan menggunakan teknologi Face Recognition untuk membantu melakukan verifikasi terkait usia pengguna, saat kebijakan batas usia baru telah diterapkan.

Tik Tok juga akan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dikombinasikan oleh pengawasan manual untuk mengawasi konten pada aplikasinya.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.