Kecerdasan Buatan Dinilai Harus Punya Hukum

Mohammad Mamduh    •    Kamis, 03 May 2018 12:10 WIB
microsoftkecerdasan buatan
Kecerdasan Buatan Dinilai Harus Punya Hukum
Ilustrasi: Microsoft

Jakarta: Artificial Intelligence (AI) secara luas menawarkan prospek peningkatan produktivitas dan percepatan inovasi kepada bisnis. Ini juga memungkinkan masyarakat menjawab tantangan paling berat dan paling sulit: penyakit, kelaparan, pengendalian iklim, dan bencana alam.

AI telah menghadirkan manfaat ekonomi yang nyata bagi berbagai organisasi di Asia Pasifik. AI juga merupakan salah satu bagian terpenting dalam agenda nasional “Making Indonesia 4.0”, yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada bulan lalu. 
 
Sebagai contoh, perusahaan pengiriman kontainer global terkemuka OOCL melaporkan bahwa penggunaan AI pada bisnis mereka telah menghemat USD10 juta (Rp139 milliar) setiap tahunnya. Sementara Apollo Hospitals di India menggunakan AI untuk membantu memprediksi penyakit jantung di antara setiap pasiennya.

Baik bank swasta dan milik negara di Indonesia termasuk Bank Central Asia, Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia juga telah memulai implementasi teknologi AI untuk memaksimalkan pelayanan pelanggan mereka dengan mengembangkan chat bot virtual pintar.

“Topik penting pembicaraan yang muncul ketika saya bertemu dengan para pimpinan perusahaan dan pemerintahan di Asia Pasifik adalah pencabangan AI dalam tenaga kerja,” kata Haris Izmee, Direktur Utama Microsoft Indonesia.
 
Dulu, merupakan hal biasa bagi sebuah kantor untuk memiliki sekumpulan pekerja yang bertugas mengetik. Peran ini tidak lagi relevan di kantor modern saat ini, berkat perkembangan komputasi personal. Munculnya AI akan membentuk kembali pekerjaan dengan cara yang sama.
 
Studi Microsoft dan IDC berjudul Unlocking the Economic Impact of Digital Transformation in Asia Pacific menunjukkan bahwa 85 persen pekerjaan di Asia Pasifik akan mengalami transformasi dalam tiga tahun ke depan.

Para responden dalam studi mengatakan bahwa lebih dari 50 persen pekerjaan akan dipindahtugaskan ke posisi baru dan/atau dilatih ulang dan ditingkatkan keterampilannya untuk transformasi digital.

Studi ini menunjukkan bahwa 26 persen pekerjaan merupakan jenis pekerjaan baru yang diciptakan dari transformasi digital, yang akan mengimbangi 27 persen pekerjaan yang akan dialihdayakan atau dikerjakan secara otomatis. Dengan kata lain, dampak AI terhadap lapangan pekerjaan secara keseluruhan akan netral.

Sementara Indonesia masih pada tahapan awal dalam adopsi AI, Microsoft mengaku telah mulai melihat pertumbuhan perusahaan yang telah mengadopsi chat bot untuk berkomunikasi dengan pelanggan mereka, seperti Bank-Bank Indonesia terkemuka yang disebutkan di atas.

Banyak yang bertanya: “jika berbicara dengan chatbot sangat menarik, apa yang terjadi jika orang berpikir untuk berbicara hanya dengan bot, dan bukan manusia lagi?”
 
Microsoft Indonesia memperkenalkan sebuah aturan untuk chatbot, yang di sebut “Hukum pertama untuk Bot Sosial”. Sebuah bot sosial harus bertujuan mendorong komunikasi manusia dengan manusia secara langsung atau tidak langsung.

Untuk bisa membedakan bot sosial dari bot lainnya, hukum tersebut harus dipatuhi, termasuk oleh bot pada platform sosial. Hukum ini juga diikuti Rinna, bot sosial Microsoft yang diprogram sebagai seorang perempuan muda.
 
Saat mengembangkan sebuah chat bot, perusahaan harus berfokus pada bagaimana membangun sebuah dunia manusia dan bot berempati satu dengan lainnya, yang dikenal sebagai hubungan emosional. 

“Sejak hari pertama pengembangan, kami menyadari keberadaan Rinna harus dan bisa membantu komunikasi manusia dengan manusia dalam berbagai bentuk melalui Rinna.” tambah Haris.

AI semestinya tidak dikendalikan oleh beberapa organisasi. Masa depan AI semestinya dibangun oleh semua orang dengan visi bagaimana AI dapat bermanfaat bagi perekonomian dan masyarakat serta bagaimana kita bisa mengatasi permasalahan-permasalah AI dan implikasinya.

“Masa depan AI bisa cerah atau redup. Pandangan saya adalah teknologi penggati merupakan sebuah norma, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi pengganti merupakan hal yang menjelaskan tentang kita semua,” tutup Haris.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.