Cryptojacking Jadi Kejahatan Siber Terpopuler di 2017

Lufthi Anggraeni    •    Sabtu, 14 Apr 2018 12:16 WIB
symantec
Cryptojacking Jadi Kejahatan Siber Terpopuler di 2017
Cryptojacking jadi kejahatan siber terpopuler selama tahun 2017.

Jakarta: Symantec mengumumkan Internet Security Threat Report (ISTR) tahun 2017, menyebut bahwa kejahatan siber cryptojacking menjadi tren selama tahun 2017 lalu.

Tren ini disebut Symantec sebagai akibat dari ranah kejahatan siber ransomware yang semakin penuh dengan pelaku kejahatan.

"Cryptojacking menjadi ancaman terpopuler sepanjang tahun 2017, dan mengalami peningkatan akibat pelaku kejahatan siber menemukan bahwa metode serangan ini lebih menguntungkan, dan tergolong lebih mudah menghasilkan keuntungan," ujar Country Manager Symantec Indonesia Andris Masengi.

Andris menyebut bahwa korban kejahatan cryptojacking umumnya tidak sadar saat perangkat mereka menjadi dimanfaatkan untuk kejahatan tersebut. Sebagian besar korban umumnya hanya menyadari bahwa kinerja perangkat mereka menjadi lebih lambat dari biasanya.

Perangkat terkena cryptojacking, lanjut Andris, umumnya melalui metode serangan siber phishing, dengan mengirimkan notifikasi yang meminta pengguna perangkat untuk mengklik tautan. Karenanya, Andris menyarankan masyarakat untuk tidak membuka pesan, seperti email, jika berasal dari pengirim yang tidak dikenal.

Sementara itu, kejahatan cryptojacking di wilayah Asia dilaporkan Symantec mengalami peningkatan sebesar 8.500 persen pada tahun 2017, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Indonesia menduduki peringkat kelima dalam daftar negara dengan insiden cryptojacking tertinggi di wilayah Asia Pasifik dan Jepang, selama tahun 2017.

Secara global, Indonesia menduduki peringkat ke 23 dalam daftar tersebut. Peningkatan jumlah serangan cryptojacking ini juga disebut sebagai dampak dari peningkatan ketertarikan peretas akibat harga yang dialami oleh mata uang kripto atau cryptocurrency.

Sementara itu, Director Systems and Engineering Symantec Malaysia & Indonesia David Rajoo mengatakan ancaman cryptojacking tak hanya dihadapi oleh individu tapi juga korporasi.

Menurutnya, korporasi memiliki sumber daya perangkat yang lebih banyak sehingga mampu menghasilkan keuntungan lebih banyak jika peretas mampu menembus keamanan sumber daya perangkat.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.