Drone Malah Sering Dipakai untuk Selundupkan Narkoba ke Penjara

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 19 Jun 2017 12:40 WIB
drone
Drone Malah Sering Dipakai untuk Selundupkan Narkoba ke Penjara
Ilustrasi.

Metrotvnews.com: Lebih dari belasan kali, drone digunakan untuk menerbangkan barang terlarang ke penjara dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Dari berbagai laporan yang ada, terbukti bahwa kegiatan penyeludupan menggunakan drone cukup sering terjadi. Dokumen Departemen Keadilan menunjukkan bahwa ada banyak usaha untuk menyeludupkan ponsel, narkoba dan konten porno ke penjara. Namun, jumlah penyelundupan yang sukses dalam dokumen tersebut lebih sedikit dari kemungkinan kegiatan penyelundupan yang berhasil dilakukan, lapor The Verge.

Penyelundupan menggunakan drone ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tapi juga di negara-negara lain, terbukti dari adanya berbagai laporan media lokal dalam beberapa tahun belakangan. Pada 2014, polisi di Australia mengatakan bawha sebuah drone dimanfaatkan dalam operasi penyelundupan narkoba yang terencana.

Dalam tahun yang sama, ada kegiatan serupa di South Carolina. Namun, drone itu jatuh ketika berusaha untuk menyelundupkan ganja. Pada 2015, paket narkoba yang diantarkan menggunakan drone membuat para tahanan saling bertarung di Ohio. Di tahun tersebut, juga terjadi kejadian lain, yaitu tertangkapnya 2 orang karena berusaha untuk menyelundupkan barang terlarang ke penjara menggunakan drone

Badan berwajib kini mulai memikirkan rencana untuk mengatasi masalah ini. Pada bulan April lalu, Inggris mengumumkan keberadaan tim baru untuk menghadapi masalah ini. Sementara Biro Penjara Amerika Serikat telah meminta teknologi yang bisa digunakan untuk menghentikan drone yang ada di dekat penjara. 

Sulit untuk menghitung berapa tepatnya kasus penyelundupan menggunakan drone ini. Namun, terlihat jelas bahwa kegiatan ini menghasilkan uang yang cukup besar. Dalam sebuah kasus, jaksa penuntut mengatakan, seorang penyelundup akan mendapatkan USD6 ribu (Rp80 juta) per transaksi. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.