Developer Diminta Tidak Idealis dan Jeli Melihat Masalah

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 09 Oct 2017 17:36 WIB
teknologisamsungstartup
Developer Diminta Tidak Idealis dan Jeli Melihat Masalah
16 tim finalis ajang Samsung Indonesia Next App 4.0

Metrotvnews.com, Jakarta: Para juri dari ajang Samsung Indonesia Next App 4.0 menilai bahwa developer hendaknya bisa ini juga tidak hanya fokus kepada sisi teknologi, tapi jeli melihat problem yang membutuhkan solusi dari karya mereka.

Idealisme developer yang dimaksud oleh Director Software R&D Samsung Institute Indonesia, Risman Adnan, yang menjadi juri dalam ajang tersebut adalah kebiasaan developer dalam pengembangan aplikasi. Bukannya berfokus kepada masalah yang membutuhkan solusi dari aplikasi atau teknologi yang diciptakan, tapi justru fokus sama teknologi yang ingin dibuat.

"Bagusnya, dari ajang semacam ini ya kita bisa memacu para developer untuk tidak membiasakan hal tersebut. Harusnya, cari dulu masalah yang bisa dibuat solusinya, baru kemudian dicari teknologi seperti apa yang bisa menjadi solusi. Jadinya, semakin banyak ajang seperti ini, maka developer lokal semakin terasah," ungkap Risman.

Oleh sebab itu, IT & Mobile Content & Service Manager Samsung Electronics Indonesia, Dolly Surya Wisaka, yang juga menjadi juri menyebutkan bahwa hal yang berbeda dari ajang tahunan ke-4 dari Indonesia Next App adalah dengan menggandeng pihak industri, supaya para developer tidak hanya menciptakan teknologi atau aplikasi canggih saja tetapi bisa menjawab tantangan industri.

"Ya sama, jadi untuk memecah idealisme mereka tadi. Mereka di dorong tidak hanya untuk membuat aplikasi atau teknologi yang menurut mereka canggih dan populer di pasar tapi juga konkrit, bisa menjadi solusi bagi kebutuhan industri juga," ujar Dolly.

Pada kategori Tantangan Industri, yang menjadi juri bukan pelaku atau ahli teknologi saja, tetapi juga perwakilan pelaku industri yang bisa terbantu dengan kehadiran karya para developer.

Salah satu developer yang lolos menjadi pemenang dalam ajang ini rupanya mengakui hal tersebut. Dalam komentarnya, dia mengaku sebagian besar developer itu mampu membuat teknologi dan aplikasi apa saja, tapi sulit mengetahui tujuan pembuatan dan menjadikannya salah satu solusi. 

"Tantanganya itu bukan soal teknologinya, tapi cara kita untuk mendapatkan insight dari kondisi permasalahan yang ada di sekitar kita, itu yang kadang kita lupa. Kalau soal membedakan developer lokal dan asing sih sekarang bisa dibilang keahlian developer lokal sudah bisa setara dengan developer asing," ungkap Puja Pramudya, yang menciptakan aplikasi Skypass dan menjadi pemenang di sub kategori Tantangan Industri untuk Pelayanan Publik dari Angkasa Pura II.

Risman mengamini pandangan bahwa kemampuan developer lokal tidak kalah dengan developer asing dalam memanfaatkan beragam teknologi dalam berkarya. Dia mengakui sangat kagum ketika pernah menemukan peserta yang masih duduk di bangku SMK, tapi mampu menggunakan beragam teknologi sensor dalam aplikasinya.

"Jadi dalam teknologi yang dia buat itu sudah ada aspek artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Bayangkan saja, dia masih SMK tentu ke depannya generasi developer yang duduk di bangku kuliah pasti mampu menciptakan teknologi yang lebih canggih tapi tetap diharapkan mereka jeli melihat problem yang ada di sekitar mereka sehinngga ya itu tadi, tidak bisa fokus ke teknologinya ketimbang problem solving yang dihadirkan oleh teknologinya," jelas Risman.

Ada empat kategori yang dikompetisikan pada Samsung Indonesia Next App 4.0. Kategori tersebut berdasarkan platform yang digunakan untuk kompetisi, mulai dari Samsung SDK (Software Development Kit) Challenge, Gear VR Challenge, Tizen Smartphone Challenge, dan Tizen Wearable Challenge. Satu kategorit tambahan lain yaitu Industry Challenge.

Aplikasi fintech yang terintegrasi dengan fingerprint Mona menjadi juara 1 di kategori Samsung SDK Challenge. Pada kategori Gear VR Challenge aplikasi GoSimulator VR menjadi juara 1 dengan menghadirkan teknologi untuk melihat cara kerja mesin motor secara virtual reality.

Juara 1 selanjutnya untuk kategori Tizen Smartphone Challenge diisi oleh Crazy Cargo, sebuah aplikasi game yang mensimulasikan kegiatan kurir yang mengantarkan barang. Kemudian, juara 1 kategori Tizen Wearable Challenge dimenangkan oleh aplikasi game simulasi memancing bernama Fishing Go.

Khsusus untuk kategori Industry Challenge, setiap juara dibedakan menjadi beberapa sub kategori yang dipilih oleh pelaku industri yang digandeng dalam acara ini. Aplikasi fintech UKM Bersama menjadi juara untuk sub kategori Perbankan dari Bank Rakyat Indonesia.

Pada sub kategori Pelayanan Publik dari Angkasa Pura II juaranya direbut oleh aplikasi Skypass yang memudahkan pengunjung bandara menggunakan fasilitas di bandara hanya lewat smartphone.

Lalu di sub kategori Tata Kota dari Jakarta Smart City dimenangkan oleh aplikasi vMuseum yang menyediakan aplikasi VR sehingga pengguna bisa berkeliling di museum-museum yang ada di Jakarta hanya menggunakan perangkat VR.

Terakhir, di sub kategori Properti dari Sinarmas Land juaranya diisi oleh aplikasi City Point. Aplikasi ini mengusung konsep gamification untuk industri properti dengan mengadopsi konsep game Pokemon Go.


(MMI)

Begini Performa Ponsel Selfie Xiaomi Redmi S2
Review Smartphone

Begini Performa Ponsel Selfie Xiaomi Redmi S2

2 weeks Ago

Xiaomi masuk industri smartphone selfie dengan merilis Xiaomi Redmi S2. Begini performanya. …

BERITA LAINNYA
Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.