Maret, Laboratorium Luar Angkasa Pertama Tiongkok Jatuh ke Bumi

Lufthi Anggraeni    •    Rabu, 03 Jan 2018 15:41 WIB
antariksateknologi
Maret, Laboratorium Luar Angkasa Pertama Tiongkok Jatuh ke Bumi
Laboratorium luar angkasa pertama Tiongkok, Tiangong-1, akan jatuh ke bumi dalam beberapa bulan mendatang.

Jakarta: Laboratorium luar angkasa pertama Tiongkok dilaporkan akan jatuh dan memasuki orbit bumi dalam beberapa bulan mendatang. Masyarakat diminta tidak khawatir, sebab peluang puing menabrak manusia dinilai kecil.

Aerospace Corporation, lembaga nonprofit California memperkirakan Tiangong-1 akan memasuki atmosfer bumi pada pertengahan bulan Maret. Tiangong-1 atau juga disebut sebagai Heavenly Palace diluncurkan pada tahun 2011 lalu.

Tiangong-1 menjadi saksi sejarah sejumlah pencapaian Tiongkok dalam upayanya menjadi negara adidaya di ranah teknologi luar angkasa. Sebagai informasi, pada tahun 2012, Tiongkok mengirimkan astronaut perempuan pertamanya, Liu Yang, sebagai bagian dari tim di balik kesuksesan docking manual dengan stasiun laboratorium tersebut.

Pada September 2016, Manned Space Engineering Office Tiongkok mengumumkan bahwa Tiangong-1 akan memasuki atmosfer pada sekitar pertengahan tahun kedua 2017. Pengumuman tersebut diinterpretasikan bahwa laboratorium masuk ke orbit tidak terkendali.

Sementara itu, pelacak satelit Aerospace Corporation telah mengindikasikan laboratorium telah masuk ke orbit setidaknya sejak Juni 2016 lalu. Lembaga tersebut juga mengungkap bahwa laboratorium akan terbakar saat memasuki atmosfer.

Sulit untuk memprediksi lokasi jatuhnya bagian yang tersisa dari stasiun laboratorium tersebut. Berdasarkan karakteristiknya, Aerospace Corporation memperkirakan Tiangong-1 akan kembali memasuki wilayah pada garis lintang  43° N and 43° S.

Sebagian besar area pada wilayah tersebut merupakan samudera, namun melintasi negara seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Tiongkok. Menurut data lintasan terbaru, Tiangong-1 mengorbit pada ketinggian rata-rata 287 km, sekitar 100 km lebih rendah dari ketinggian rata-ratanya di bulan September 2016.

Meski tidak terlalu berbahaya, Aerospace Corporation menilai Tiongong-1 masih memiliki satu hal yang perlu dikhawatirkan, yaitu masyarakat menemukan dan mengambil puing pesawat stasiun laboratorium yang terbalut zat korosif.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.