Google Danai Startup Pembuat OS untuk Feature Phone

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 28 Jun 2018 15:15 WIB
google
Google Danai Startup Pembuat OS untuk Feature Phone
Ponsel Nokia yang menggunakan KaiOS.

Jakarta: KaiOS Technologies, perusahaan yang mengembangkan sistem operasi untuk feature phone, mengumumkan bahwa mereka baru saja mendapatkan pendanaan dari Google. 

Perusahaan pembuat Android itu memimpin investasi senilai USD22 juta (Rp315 miliar) untuk startup asal Hong Kong tersebut. Kedua perusahaan mengatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk membuat ponsel lebih baik yang akan "membawa internet ke pengguna generasi berikutnya."

"Pendanaan ini akan membantu kami untuk mengembangkan dan mengirimkan feature phone cerdas berbasis KaiOS, memungkinkan kami untuk menghubungkan banyak orang yang belum bisa mengakses internet, khususnya di negara-negara berkembang," kata Sebastien Codeville, CEO KaiOS Technologies, seperti yang dikutip dari VentureBeat

Produk utama KaiOS Technologies, KaiOS, adalah sistem operasi berbasis web yang menargetkan feature phone dan perangkat Internet of Things (IoT). KaiOS hanya membutuhkan memori yang sangat kecil. Namun, OS ini tetap dilengkapi dengan fitur-fitur seperti aplikasi, GPS, 4G/LTE dan WiFi. 

KaiOS Technologies telah bekerja sama dengan para manufaktur perangkat mobile seperti HMD Global dan Micromax dan juga beberapa operator seperti Sprint, AT&T dan T-Mobile dari Amerika Serikat. 

Memang, Android buatan Google juga digunakan pada smartphone kelas pemula, yang terbukti populer di negara-negara berkembang. Dengan menyediakan fitur canggih untuk ponsel-ponsel kelas menengah-atas, ada bahaya bahwa pangsa pasar Android di kelas pemula akan tergerus.

Namun, Google telah mendapatkan kerja sama untuk menyediakan Google Assistant, Maps, Search dan YouTube untuk para pengguna KaiOS. 

"Kami ingin memastikan bahwa aplikasi dan layanan Google tersedia untuk semua orang, tidak peduli apakah mereka menggunakan desktop, smartphone atau feature phone," kata VP of Google's Next Billion Users program, Anjali Joshi. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.