Karyawan Google di AS Mundur, Kenapa?

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 15 May 2018 13:37 WIB
google
Karyawan Google di AS Mundur, Kenapa?
Ilustrasi. (GIZMODO)

Jakarta: Banyak pegawai Google di Amerika Seikat mengajukan mundur. Hal ini sebagai protes atas kerja sama Google dengan Badan Perahanan Amerika Serikat atau yang biasa dikenal sebagai Pentagon.

Tiga bulan lalu, pegawai Google dan publik mulai mengetahui bahwa Google melakukan kerja sama, bahkan menandatangani kontrak dengan Pentagon dalam pengembangan kemampuan analisis drone dengan nama Project Maven.

Teknologi analisis ini akan membantu drone yang diduga sebagai senjata militer Amerika Serikat bisa mengenali setiap objek serta orang yang dipantau. Tentu saja, mereka yang memprotes hal ini beranggapan bahwa Google ikut serta dalam pengembangan senjata militer.

Tidak diketahui berapa banyak pegawai yang telah mengajukan mundur, tapi dari pgeawai Google yang dihubungi Gizmodo, kabarnya jumlah mereka yang menyatakan mundur terus bertambah. Setidaknya ada 4.000 pegawai yang membuat petisi agar Google memutus kerja sama dengan Pentagon.

Mereka yang mundur memiliki argumen bahwa senjata militer seharusnya dikendalikan sepenuhnya oleh manusia, bukan oleh algoritma dari mesin. Google sebagai perusahaan teknologi bukanlah kontraktor pengembangan teknologi militer.

Di pihak Google, mereka telah memberikan klarifikasi kepada pegawai dan publik bahwa sejauh ini pengembangan machine learning bersama Pentagon digunakan untuk menyediakan pertolongan jatuhnya korban jiwa dalam sebuah insiden. Selain itu, pengembangan teknologi tersebut hanya boleh digunakan untuk kebutuhan yang tidak menyerang.

Project Maven mulai dikembangkan pada bulan April 2017, proyek ini diimplementasikan pada drone yang terbang dan merekam video untuk kemudian bias langsung mengenali objek apa saja yang tertangkap kamera.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.