Kisah Ironis Cyanogen, Tenggelam Sebelum Menenggelamkan Google

Riandanu Madi Utomo    •    Selasa, 27 Dec 2016 11:11 WIB
googlecyanogenmodsoftware and technology
Kisah Ironis Cyanogen, Tenggelam Sebelum Menenggelamkan Google
Cyanogen OS akhirnya tenggelam sebelum sempat menumbangkan Google (Ilustrasi: Phandroid)

Metrotvnews.com: Berita cukup mengejutkan datang dari Cyanogen. Perusahaan software yang juga merupakan pembuat sistem operasi Cyanogen OS tersebut mengumumkan akan menghentikan layanan sistem operasinya mulai tanggal 31 Desember 2016 mendatang.

Sebagai bagian dari prosesnya, seluruh layanan akan dihentikan dan pengembangan berbasis platform juga turut dihentikan.

Ini tentu merupakan kabar buruk bagi sebagian pengguna ponsel berbasiskan Cyanogen OS, seperti OnePlus One, karena mereka harus berpindah ke CyanogenMod ROM yang bukan merupakan produk komersil dan hanya dimanajemen oleh komunitas developer yang dipimpin oleh mantan CEO sekaligus pendiri Cyanogen, Steve Klondik.

Sebelumnya mantan CEO Cyanogen, yaitu Kirt McMaster, dengan percaya diri pernah mengatakan pihaknya akan "menembakkan peluru ke kepala Google". Pernyataan tersebut merupakan tantangan langsung Cyanogen kepada Google serta menggambarkan ambisi kuat dari Cyanogen untuk mengalahkan Android di ranah sistem operasi perangkat mobile.

Sayangnya ambisi tersebut berubah ketika CEO Cyanogen baru, yaitu Lior Tal, dipilih. Menurut Tech Crunch, Tal lebih suka "berdamai" dengan Google dan lebih ingin Cyanogen berada di samping Android.

Pada dasarnya, Cyanogen OS merupakan sistem operasi yang sangat menarik. Ia dirancang khusus untuk menghadirkan fitur lebih cerdas dibandingkan dengan Android standar. Cyanogen OS juga menawarkan fitur kustomisasi yang lebih beragam dari Android, sehingga memungkinkan penggunanya untuk melakukan personalisasi perangkat lebih jauh.



Masalahnya, Cyanogen OS tidak terlalu menarik bagi produsen ponsel. Cyanogen OS mengharuskan produsen ponsel tidak lagi menggunakan berbagai layanan Google dan menggantinya dengan layanan dari Cyanogen. Hal tersebut membuat nilai ponsel menjadi turun karena masih banyak konsumen yang lebih suka menggunakan layanan Google.

Sulitnya mencari produsen ponsel yang ingin menggunakan Cyanogen OS membuat Cyanogen kewalahan dalam beberapa tahun terakhir. OnePlus yang merupakan klien terbesar, juga hanya memproduksi satu varian ponsel yang menggunakan Cyanogen OS.

Pada akhirnya, Cyanogen yang sangat berambisi menumbangkan Google pun justru tenggelam terlebih dulu. Hal tersebut memang cukup ironis, mengingat Cyanogen OS sebenarnya memiliki potensi sangat besar untuk bersinar sebagai salah stau sistem operasi untuk perangkat mobile.

Sebelum mengumumkan penghentian layanannya, Cyanogen telah menunjukkan tanda-tanda akan tumbang. Dalam beberapa waktu terakhir, Cyanogen dilaporkan telah beberapa kali merumahkan karyawannya. Padahal pada akhir November kemarin Tal mengatakan bahwa keuangan Cyanogen masih aman.

Penutupan layanan Cyanogen OS diperkirakan sebagai langkah lanjutan Cyanogen untuk memangkas biaya operasionalnya. Selain menandakan berakhirnya pengembangan Cyanogen OS, penutupan layanan ini juga semakin memburamkan masa depan Cyanogen karena perusahaan tersebut kini hampir tidak memiliki produk apapun yang ingin ditawarkan ke pasar.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.