Startup Refactory Ingin Naikkan Level Programmer Indonesia

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 07 Sep 2017 15:22 WIB
startupdigitalnkri
Startup Refactory Ingin Naikkan Level Programmer Indonesia
Refactory ingin tingkatkan level programmer menengah menjadi kelas atas.

Metrotvnews.com, Jakarta: Programmer dan coder merupakan salah satu pekerjaan yang paling dicari di Amerika Serikat, menurut data BLS pada 2015. Di Indonesia, keberadaan programmer pun mulai dicari. Salah satu alasannya karena mulai banyak startup baru bermunculan. Pemerintah pun mendorong tren startup ini dengan mengadakan program 1.000 startup digital. 

Sayangnya, di Indonesia, jumlah programmer masih belum mencukupi kebutuhan industri. Masalah ini dilihat sebagai peluang oleh Taufan Aditya, CEO Refactory.id. "Asia itu ibaratnya tanah tak bertuan, pemainnya masih sedikit yang benar-benar ada di kelas profesional, apalagi di Indonesia," kata Taufan.

Refractory mencoba untuk menyelesaikan masalah kurangnya programmer yang mumpuni di Indonesia dengan mengadakan pelatihan singkat. Saat ini, pelatihan yang diadakan ditujukan untuk programmer kelas menengah agar bisa naik menjadi profesional. Pelatihan itu diadakan di Bandung setiap 3 bulan sekali. 

"Sulit memang jika yang ikut bootcamp kami itu tidak memiliki pengetahuan dasar sama sekali di dunia coder dan pemprograman karena waktu yang singkat hanya 3 bulan. Tapi, tidak menutup kemungkinan ke depan untuk membuka kelas bagi para peminat pemula," katanya.

Di Indonesia, masih belum banyak pihak yang menyediakan pelatihan untuk programmer. Namun, Taufan merasa, dalam beberapa tahun ke depan, pelatihan pemprograman singkat akan muncul sebagai tren. Sekarang, pelatihan itu sudah mulai bermunculan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Biasanya, pelatihan ini memakan biaya sekitar Rp30-40 juta per gelombang. 

Pelatihan ini juga biasanya tidak memakan waktu lama. "Di Refactory, kelas kami gelar lima hari seminggu, per harinya 12 jam selama satu batch atau 12 minggu," kata Taufan. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.