ZTE Tutup Bisnis di AS

Lufthi Anggraeni    •    Kamis, 10 May 2018 09:24 WIB
zte
ZTE Tutup Bisnis di AS
ZTE harus menutup sejumlah bisnisnya di Amerika Serikat akibat pelarangan ekspor oleh Departemen Perdagangan AS.

Jakarta: Pelarangan ekspor Departemen Perdagangan Amerika Serikat mencegah ZTE memasarkan software, hardware dan komponen di pasar Amerika Serikat, menghadirkan dampak buruk.

ZTE mendaftarkan dokumen pada Bursa Efek Hong Kong bahwa usahanya di pasar tersebut tidak akan berlanjut. Hingga saat ini, ZTE mempertahankan dana yang cukup dan secara ketat mematuhi kewajiban komersialnya sesuai dengan hukum dan regulasi yang berlaku.

ZTE menjadi perusahaan smartphone terbesar keempat di Amerika Serikat dengan pangsa pasar sebesar 9,5 persen. ZTE mencapai posisi tersebut dengan menjual produk dan layanan ke Iran dan Korea Selatan, yang melanggar sanksi di Amerika Serikat.

Penalti yang harus dihadapi ZTE dari Departemen Perdagangan Amerika Serikat termasuk penahanan pendapatan bonus dan surat terguran kepada perusahaan yang turut terlibat.

Selain itu, ZTE juga harus menghadapi pelarangan ekspor selama tujuh tahun, hingga pemerintah Amerika Serikat memastikan ZTE melakukan kebohongan terkait dengan dengan kepatuhannya terhadap penalti. Pelarangan ekspor tujuh tahun kembali diberlakukan dan berlangsung hingga bulan Maret 2025.

Saat berupaya berdiskusi dengan Departemen Perdagangan Amerika Serikat untuk mencabut pelarangan tersebut, ZTE harus menutup situs online miliknya, serta menarik seluruh daftar dari peritel online seperti platform Taobao milik Alibaba Group. Alih-alih menawarkan ponsel ZTE, situs menyebut bahwa halaman tengah diperbaiki.

ZTE juga kehilangan akses ke bagian dari rantai pemasok yang berbasis di Amerika Serikat, termasuk chip Qualcomm Snapdragon, dan lisensi yang memungkinkannya menginstal Google Play Services versi open source dari sistem operasi Android.

Sementara itu, pihak pemerintah Amerika Serikat baru-baru ini menyebut tengah melakukan investigasi pada produsen smartphone Tiongkok, Huawei, yang juga disebut melakukan pelanggaran terkait dengan regulasi sanksi terhadap Iran.

Huawei merupakan produsen smartphone terbesar ketiga di dunia, dilaporkan memiliki keuntungan lebih baik dari ZTE.

Keuntungan tersebut termasuk penggunaan chipset yang merupakan hasil rancangannya, yaitu Kirin, dan saat ini dilaporkan tengah mengembangkan sistem operasinya karyanya. Pada tahun 2012, baik Huawei maupun ZTE dituduh badan hukum Amerika Serikat sebagai mata-mata.

Tuduhan tersebut hingga saat ini masih dibantah keras oleh kedua perusahaan asal Tiongkok ini. Selain itu akibat tuduhan ini, baik Huawei maupun ZTE juga dilarang untuk menjual perangkat mereka di wilayah yang dilindungi oleh badan militer Amerika Serikat.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.