Ada Data Pengguna Indonesia di Skandal Cambridge Analytica, Ini Kata Pengamat

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 05 Apr 2018 13:20 WIB
media sosialfacebookCambridge Analytica
Ada Data Pengguna Indonesia di Skandal Cambridge Analytica, Ini Kata Pengamat
Ada pengguna Facebook Indonesia yang terpengaruh skandal Cambridge Analytica. (AFP PHOTO / Daniel LEAL-OLIVAS)

Jakarta: Satu juta data pengguna Facebook di Indonesia terlibat dalam skandal Cambridge Analytica. Utamanya, skandal itu memengaruhi pengguna Facebook di Amerika Serikat. Meskipun begitu, diketahui bahwa skandal ini juga melibatkan satu juta pengguna di Indonesia. 

Menurut pengamat teknologi informasi, Onno W. Purbo, hal ini tidak perlu dikhawatirkan, selama Anda tidak banyak mengunggah konten yang bersifat pribadi.

"Selama kita tidak terlalu banyak posting memberikan informasi yang sifatnya pribadi termasuk pandangan politik, ekonomi dan lain sebagainya, sebetulnya relatif aman," kata pria yang akrab dengan panggilan Onno ini ketika dihubungi Medcom.id. 

Saat ditanya data yang "tercuri" ini digunakan untuk apa, dia menjelaskan bahwa penggunaan data pengguna tergantung pada data yang diunggah oleh pengguna ke jejaring sosial tersebut. 

"Kalau banyak posting-an politik, bisa digunakan utk konsumsi politik. Kalau banyak posting tentang kesukaan, hobi, fesyen, wisata, ya pasti nanti bisa dipakai untuk marketing perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang tersebut," ujarnya.

Dia menyebutkan, semakin banyak informasi yang Anda unggah ke media sosial seperti Facebook, maka semakin besar pula kemungkinan data tersebut disalahgunakan. 

Onno mengatakan, jika Anda tidak ingin data pribadi disalahgunakan, cara terbaik yang bisa diambil adalah dengan berhenti menggunakan Facebook. "Tapi, kalau kita tidak terlalu banyak posting yang macam-macam, sebenarnya aman-aman saja," katanya. 

Pemerintah sebenarnya memiliki kuasa untuk melindungi pengguna dari perusahaan seperti Facebook yang mengumpulkan data pengguna, yaitu PP 82/2012 dari Kemkominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika).

"Kalau ada pelanggaran, bisa kena Pidana dari UU ITE. Kalau tidak salah, sekitar 6 tahun penjara dan/atau denda sekitar Rp600 juta atau lebih," katanya. "Cuma, itupun kalau pemerintahnya berani."


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.