Target E-Commerce Pemerintah Sangat Sulit Dicapai

Riandanu Madi Utomo    •    Senin, 21 Nov 2016 15:42 WIB
e-commerce
Target E-Commerce Pemerintah Sangat Sulit Dicapai
Country Manager, IDC Indonesia, Sudev Bangah

Metrotvnews.com, Jakarta: Salah satu target pemerintah melalui Paket Kebijakan Ekonomi Ke-14 adalah Indonesia menjadikan Indonesia negara ekonomi digital terbesar se-Asia pada tahun 2020.

Beberapa langkah untuk mencapai tujuan tersebut adalah menghadirkan industri e-commerce senilai USD130 miliar pada tahun 2020. Namun, menurut International Data Corporation (IDC), target pemerintah tersebut akan sangat sulit dicapai, bahkan mustahil.

Dalam acara Press Briefing hari ini, Senin (21/11/2016), IDC menilai target pemerintah tersebut tidak layak dengan lansekap e-commerce Indonesia saat ini.



"Target tahun 2020 sangat sulit dicapai," ujar Country Manager, IDC Indonesia, Sudev Bangah. 

"Saat ini valuasi bisnis e-commerce di Indonesia hanya USD18 miliar. Untuk mencapai target USD130 miliar di tahun 2020 artinya kita harus meningkatkan valuasi hampir 10 kali lipat. Jika melihat secara realita, tentu target tersebut akan sangat sulit sekali dicapai."

Sudev mengungkapkan salah satu permasalahan utama dari ekosistem e-commerce adalah masih buramnya definisi e-commerce itu sendiri di Indonesia. Jika melihat definisi yang dimaksudkan oleh pemerintah, bisnis e-commerce juga termasuk pada bisnis transportasi seperti yang dilakukan oleh GoJek. Pada kenyataannya, bisnis tersebut bukan termasuk pada kategori e-commerce.

Menurut IDC, kategori pasar e-commerce di Indonesia saat ini ada tiga. Pertama adalah Pure e-commerce, yaitu pelaku yang menjual barang miliknya hanya secara online. Kedua adalah Total e-commerce yang juga mengikutsertakan pihak ketiga untuk menjual barangnya di sebuah platform e-commerce. Dan yang ketiga adalah pemain O2O (Offline to Online) yang menjual barangnya melalui e-commerce sekaligus toko offline.

IDC memperkirakan nilai valuasi ketiganya hingga akhir tahun 2016 adalah sebesar USD8 miliar. Tentu saja, angka tersebut masih sangat jauh jika melihat target pemerintah yang mematok di angka USD130 miliar pada tahun 2020.



Menariknya, ada beberapa masalah mendasar lain yang membuat pasar e-commerce di Indonesia sulit berkembang. Menurut Sudev, pasar e-commerce di Indonesia sendiri tidak sebesar yang dibicarakan dan dikatakan. Hal tersebut dikarenakan pemerintah seringkali menggunakan angka pertumbuhan pengguna internet sebagai patokan ukuran pasar e-commerce. Padahal menurut IDC, jumlah pengguna internet tidak ada kolerasinya dengan jumlah konsumen e-commerce.

Jika melihat data dari IDC, pengguna internet di Indonesia masih didominasi oleh mengakses hiburan, media sosial, dan berita. Sedangkan porsi e-commerce hanya sebesar 13,3 persen. Hal tersebut dikarenakan masih cukup banyak masyarakat yang belum nyaman menggunakan e-commerce dan masih ingin melihat fisik barang yang akan dibelinya secara langsung.



Beberapa faktor yang membuat masyarakat belum mau menggunakan e-commerce adalah karena tidak bisa menjajal produks ecara langsung dan deskripsi produk yang ditawarkan seringkali tidak jelas. Selain itu, sistem pembayaran yang kurang aman dan benyaknya tingkat penipuan juga menjadi alasan mengapa masyarakat enggan membeli barang melalui e-commerce.

Pemainnya juga bukan merupakan "e-commerce sungguhan", dalam artian masih hanya berupa memindahkan platform transaksi dari offline ke online. Sudev mengatakan sebuah e-commerce seharusnya menawarkan nilai lebih kepada konsumen dan bukan hanya sekadar memindahkan transaksi dari offline ke online.

"Sebuah e-commerce seharusnya mampu menghadirkan pengalaman belanja yang berbeda dengan belanja offline, bukan hanya sekadar menghadirkan kepraktisan dalam memesan dan bertransaksi," ujar Sundev.

"E-commerce harusnya memiliki sistem personalisasi dalam berbelanja melalui sistem analitik. Selain itu, e-commerce juga memiliki barang eksklusif yang hanya dijual olehnya secara online. Itu yang akan menjadi nilai lebih dan bisa menarik konsumen untuk berbelanja."



Lalu apa yang bisa dilakukan untuk saat ini?

Perlu adanya kerjasama dan kerja keras dari berbagai pihak, terutama pemerintah dan pelaku usaha e-commerce, jika target tahun 2020 yang dipaparkan pada Paket Kebijakan Ekonomi XIV ingin tercapai.

Pemerintah diharapkan bisa lebih bersikap pro aktif dalam mengembangkan ekosistem e-commerce, terutama dalam pengembangan infrastruktur, mulai dari telekomunikasi, hingga transportasi dan logistik.

Sementara dari pihak pelaku usaha e-commerce diharapkan dapat berinovasi dan menghadirkan model bisnis baru kepada konsumen. Hal tersebut termasuk mengubah cara interaksi antara konsumen dengan platform e-commerce sehingga bisa menarik minat masyarakat untuk berpartisipasi menggunakan e-commerce sebagai sarana berbelanja.


(MMI)

ASUS Zenfone Max Pro M1, Pas untuk yang Suka Main Game Bareng
Review Smartphone

ASUS Zenfone Max Pro M1, Pas untuk yang Suka Main Game Bareng

2 days Ago

Menjual daya tahan baterai yang awet dengan kebutuhan mobile gaming adalah perpaduan yang pas.

BERITA LAINNYA
Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.