Kecerdasan Buatan Bisa Deteksi Demonstrasi dari Medsos

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 29 May 2018 17:33 WIB
media sosialamerika serikat
Kecerdasan Buatan Bisa Deteksi Demonstrasi dari Medsos
Ilustrasi.

Jakarta: Media sosial bisa digunakan untuk mencegah kekerasan di dunia nyata. Memang, media sosial sekarang ini dipenuhi dengan permusuhan.

Namun, menurut riset dari studi yang dilakukan oleh University of Southern California (USC), media sosial bisa digunakan untuk mencegah kekerasan di dunia nyata.

Ahli psikologi dan ahli komputer di USC membuat kecerdasan buatan (AI) yang memindai post dan menganalisa konten untuk menghitung kemungkinan terjadinya kekerasan dalam sebuah demonstrasi.

Alat ini bisa digunakan untuk mempersiapkan pihak berwajib dalam menghadapi demonstrasi yang mungkin akan berujung pada kekerasan. 

Menurut Digital Trends, dengan menganalisa post di Twitter, AI ini dapat melacak bahasa yang dianggap sebagai bibit kekerasan. Riset ini juga menunjukkan bahwa topik moralitas -- topik yang dianggap jelas salah atau benar -- memiliki kemungkinan tinggi untuk memicu kekerasan. 

"Temuan kami menunjukkan bahwa masyarakat lebih mungkin membiarkan demonstrasi berakhir dengan kekerasan ketika demonstrasi itu terkait isu dengan masalah moral dan ketika mereka percaya bahwa orang lain juga memercayai pendapat mereka," kata Morteza Dehghani, salah satu peneliti USC yang meimpin studi ini. 

Dehghani dan timnya menganalisis 18 juta tweet dari demonstrasi di Baltimore pada 2015 terkait kekerasan yang dilakukan oleh polisi setelah kematian Freddie Gray.

Menurut Dehghani, konvergensi moral merupakan salah satu faktor yang mendorong munculnya kekerasan. Namun, itu bukanlah satu-satunya faktor. 

Dengan mengidentifikasi demonstrasi yang memiliki kemungkinan besar berujung pada kekerasan, pihak berwajib bisa mempersiapkan diri dan menghadapi para demonstran dengan lebih berhati-hati. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.