Google dan Facebook Salah Gunakan GDPR?

Lufthi Anggraeni    •    Sabtu, 26 May 2018 12:30 WIB
facebookgoogle
Google dan Facebook Salah Gunakan GDPR?
Google dan Facebook dilaporkan telah melakukan pelanggaran GDPR di wilayah Uni Eropa.

Jakarta: Kebijakan jaringan privasi baru di wilayah Uni Eropa, General Data Protection Regulation (GDPR), akan mulai diterapkan setelah beberapa tahun melalui proses diskusi beberapa hari lalu. Kini European Center for Digital Rights NOYB telah menangani kasus Facebook dan Google.

Badan pengawas tersebut menyebut kedua raksasa teknologi dan internet tersebut telah melanggar regulasi tersebut.

Pada laporan NOYB terbaru, lembaga non-profit menuduh kedua perusahaan terlibat dalam pemaksaan persetujuan, dengan mengadopsi pendekatan "take it or leave it".

Pendekatan ini memaksa konsumen untuk menyetujui persyaratan data atau kehilangan untuk mengakses layanan yang ditawarkannya.

NOYB merespons dengan pernyataan yang menyebut bahwa GDPR ditujukan untuk memberikan kebebasan dalam memilih kepada pengguna, untuk menyetujui atau tidak menyetujui penggunaan data.

NOYB juga menyebut bahwa kesan sebaliknya yang dihadirkan kepada pengguna, berupa kotak persetujuan muncul secara online atau dalam aplikasi, sering kali dikombinasikan dengan ancaman layanan tidak akan dapat digunakan kembali jika pengguna tidak menyetujuinya.

Selain itu NOYB turut mengungkap, pada hari pertama GDPR diterapkan, instansinya menerima empat keluhan untuk Google Android, Facebook, WhatsApp dan Instagram terkait dengan pemaksaan persetujuan.

Ketua instansi tersebut, Max Schrems, turut menjelaskan kemiripan antara tindakan Facebook dan proses pemilihan di Korea Utara.

Schrems menyebut Facebook bahkan memblokir akun pengguna yang tidak memberikan persetujuannya.

Pada akhirnya, pengguna hanya memiliki pilihan untuk menghapus akunnya atau menekan tombol "setuju", yang dinilai bukan sebagai kebebasan memilih dan mengingatkan pada proses pemilihan di Korea Utara.

Jika Uni Eropa menyepakati bahwa Facebook dan Google telah melakukan pelanggaran regulasi, kedua perusahaan berpeluang untuk menerima hukuman berupa denda.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.