Partai Politik Hanya Boleh Pakai Data Kependudukan Terbuka

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 09 Apr 2018 20:53 WIB
kominfoCambridge Analytica
Partai Politik Hanya Boleh Pakai Data Kependudukan Terbuka
Ilustrasi. (Wikimedia Commons)

Jakarta: Data Dukcapil (Kependudukan dan Pencatatan Sipil) tidak diakses partai politik. Hal ini diungkap oleh Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh dalam RDP antara Komisi 1 DPR dengan Dukcapil dan Kominfo PPI. 

"Saya sebagai pengelola data menjamin bahwa tidak ada partai politik yang mengakses data kami," kata Zudan saat ditemui di DPR. "Data itu hanya boleh digunakan untuk pelayanan publik, pencegahan kriminal, demokratisasi, alokasi anggaran, dan perencanaan pembangunan."

Lebih lanjut Zudan menjelaskan, data kependudukan yang boleh diakses oleh partai politik -- atau pihak lain -- adalah data agregat. Data ini merupakan data jumlah, misalnya seperti berpa jumlah perempuan dan laki-laki yang ada di sebuah kelurahan atau jumlah orang dengan golongan darah tertentu di suatu kawasan. 

Data itu memang bebas diakses oleh semua orang karena bersifat terbuka. Zudan menjelaskan, Undang-Undang Adminduk membagi jenis data menjadi dua, yaitu data pribadi dan data agregat atau data terbuka.

"Data pribadi yang harus dilindungi seperti iris mata, kemudian biometrik, sidik jari, cacat fisik, cacat mental dan aib seseorang," katanya. 

Sementara itu, kata Zudan, data yang ada pada sebuah KTP tidak dianggap sebagi data pribadi. Pada saat yang sama, data tersebut tidak boleh disalahgunakan. "Data-data itu tidak boleh dikumpulkan kemudian diperjualbelikan," katanya. 

Penyalahgunaan data oleh sebuah partai politik muncul setelah mencuatnya skandal Cambridge Analytica.

Dalam skandal itu, diketahui bahwa data dari 87 juta pengguna Facebook didapatkan secara ilegal oleh perusahaan konsultasi Cambridge Analytica, yang kemudian memanfaatkan data itu untuk membantu tim sukses Donald Trump pada pemilu Amerika Serikat pada 2016. 

Ternyata, dalam skandal Cambridge Analytica, terdapat 1 juta data pengguna Indonesia yang terlibat. Karena itulah, Komisi 1 DPR RI akan memanggil perwakilan Facebook di Indonesia untuk membahas masalah tersebut pada hari Rabu mendatang. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.