Induk Google Ingin Selesaikan Kelaparan Pakai Kecerdasan Buatan

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 29 Mar 2018 11:20 WIB
googlekecerdasan buatan
Induk Google Ingin Selesaikan Kelaparan Pakai Kecerdasan Buatan
Teknologi AI bisa digabungkan dengan drone atau teknologi robotik lainnya. (Francois Nascimbeni/AFP/Getty Images)

Jakarta: Alphabet menjadi salah satu perusahaan yang ingin menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produksi makanan.

Divisi X dari perusahaan induk Google itu mengungkapkan bahwa mereka tengah berusaha untuk menemukan cara untuk membantu para petani menjadi lebih produktif menggunakan machine learning atau pembelajaran mesin. 

Meski X belum menyebutkan solusi spesifik yang sedang mereka kembangkan, kepala laboratorium Astro Teller berkata pada MIT Technology Review bahwa AI bisa digabungkan dengan drone atau teknologi robotik lainnya.

Teknologi ini bisa digunakan untuk menentukan kapan petani harus panen atau membantu petani yang tinggal di kawasan yang mengalami perubahan cuaca. 

Ada tiga kriteria yang membuat sebuah proyek menarik perhatian X. Pertama, proyek itu harus berpotensi menyelesaikan masalah yang dapat membantu jutaan atau bahkan miliaran orang.

Kedua, teknologi itu harus melibatkan teknologi canggih. Ketiga, solusi itu harus bisa diselesaikan dalam waktu sekitar 5 sampai 10 tahun. 

Namun, seperti yang disebutkan oleh Engadget, jangan berharap X akan dapat selesai mengembangkan teknologi ini dalam waktu dekat.

Selain itu, masih belum diketahui apakah usaha X akan berakhir dengan munculnya solusi praktis yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah kekurangan pangan. 

Memang, AI bisa sangat membantu dalam bidang pertanian. Gagal panen adalah masalah besar dalam dunia pertanian. Menurut PBB, setiap tahunnya, gagal panen menyebabkan 20-40 persen dari total produksi tidak bisa digunakan, baik karena penyakit atau karena hama.

Pertanian terbesar sekalipun terkadang masin menemui masalah berupa penurunan panen atau kualitas panen yang kurang baik.

AI bisa digunakan untuk memaksimalkan hasil panen, tidak hanya dalam jumlah, tapi juga kualitas dari panen itu sendiri. Meningkatnya produksi pertanian pada akhirnya bisa menurunkan masalah malnutrisi dan meningkatkan taraf hidup kebanyakan populasi manusia.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.