Eddy: Ingin Jadi Atlet Esport? Jangan Tinggalkan Sekolah

Lufthi Anggraeni    •    Selasa, 24 Jul 2018 17:37 WIB
esport
Eddy: Ingin Jadi Atlet Esport? Jangan Tinggalkan Sekolah
Eddy Lim melarang anak muda yang berminat pada ranah esport untuk meninggalkan bangku pendidikan.

Jakarta: Ranah olahraga elektronik atau esport kian mendapat perhatian dari berbagai pihak, tidak kecuali pemerintah Indonesia. 

Hal ini turut menjadikan penggiat esport dapat disebut sebagai atlet. Namun, Ketua IESPA Indonesia Eddy Lim menyebut, atlet esport berbeda dari gamer pada umumnya. Untuk menjadi atlet esport, mereka disebut harus memenuhi sejumlah kriteria.

"Untuk jadi atlet esport, banyak hal yg harus diperhatikan, tak sekadar main game. Salah satu syarat adalah jadi atlet, mereka harus latihan fisik. Kedua karena esport adalah permainan otak, mereka harus menguasai logika yang bagus," ujar Eddy.

Penguasaan logika yang baik disebut Eddy akan menjadikan performa permainan game lebih baik. Karenanya, Eddy melarang anak muda untuk mengambil keputusan meninggalkan sekolah demi menjadi atlet esport.

Sebab menurutnya, pengetahuan logika salah satunya dapat dipelajari di sekolah, melalui pelajaran matematika dan fisika. Selain itu, kemenangan di ranah ini dinilai Eddy sebagai hal yang tidak pasti, sehingga tidak patut meninggalkan pendidikan resmi.

Selain itu, menurut Eddy, kemampuan manusia dalam hal sinkronisasi antara mata dan pergerakan anggota tubuh seperti tangan akan menurun di usia 27 atau 28 tahun. Sehingga setelah usia tersebut, kemampuan atau skill atlet esport akan mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Hal ini menjadi pendukung alasannya tidak menyarankan anak muda yang meminati industri esport untuk meninggalkan sekolah mereka.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.