10 Hoaks Populer 2018 Versi Kemenkominfo

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 24 Dec 2018 10:17 WIB
kominfohoax
10 Hoaks Populer 2018 Versi Kemenkominfo
ILUSTRASI: Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (22/1)/ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma.

Jakarta: Konten hoaks yang beredar di internet menjadi musuh besar Indonesia saat ini. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) membagikan daftar konten hoaks paling berdampak sepanjang 2018.

Berdasarkan pemantauan mesin pengawas konten Sub Direktorat Pengendalian Konten Internet dari Ditjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo, ada 10 daftar konten hoaks sepanjang 2018 dengan dampak meresahkan masyarakat dan menjadi perhatian nasional.

1. Hoaks Ratna Sarumpaet
Pemberitaan penganiayaan Ratna Sarumpaet oleh sekelompok orang pertama kali beredar via Facebook tanggal 2 Oktober 2018 di akun Swary Utami Dewi. Unggahan itu disertai tangkapan layar aplikasi pesan WhatsApp yang disertai foto Ratna Sarumpaet.

Konten tersebut kemudian diviralkan melalui Twitter dan diunggah kembali serta dibenarkan beberapa tokoh politik tanpa melakukan verifikasi akan kebenaran berita tersebut.

Berdasarkan hasil penyelidikan Kepolisian, Ratna diketahui tidak dirawat di 23 rumah sakit dan tidak pernah melapor ke 28 Polsek di Bandung dalam kurun waktu 28 September sampai dengan 2 Oktober 2018.

Saat kejadian yang disebutkan pada 21 September, Ratna diketahui tidak sedang di Bandung. Hasil penyelidikan menunjukkan Ratna datang ke Rumah Sakit Bina Estetika Menteng, Jakarta Pusat, pada 21 September 2018 sekitar pukul 17.00 WIB

Direktur Tindak Pidana Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta mengatakan Ratna telah melakukan perjanjian operasi pada 20 September 2018 dan tinggal hingga 24 September.

2. Hoaks Gempa Susulan di Palu
Beredarnya broadcast konten melalui Aplikasi Whatsapp tentang gempa susulan di Palu sangat meresahkan masyarakat Kota Palu khususnya. Berita itu berdampak langsung kepada korban gempa dan tsunami yang masih mengalami trauma. Broadcast tersebut tersebar melalui.

Dalam pesan berantai tersebut tertulis bahwa Palu dalam keadaan siaga 1. Informasi menukil seorang yang bekerja di BMKG ketika selesai memeriksa alat pendeteksi gempa. Pesan tersebut menyebutkan bahwa akan terjadi gempa susulan berkekuatan 8,1 SR dan berpotensi tsunami besar.

Hoaks tersebut langsung dibantah dan mendapat verifikasi dari Kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

3. Hoaks Penculikan Anak
Hoaks penculikan anak beredar di media sosial media seperti Facebook, Twitter dan Whatsapp. Hal itu meresahkan masyarakat terutama orang tua yang memiliki anak-anak masih kecil. Di Twitter hoaks yang beredar menyatakan pelaku penculikan anak tertangkap di Jalan Kran Kemayoran, Jakarta Pusat.

Beberapa konten hoaks yang tersebar menampilkan foto dan video penangkapan seorang pria oleh kepolisian. Kapolsek Kemayoran Kompol Saiful Anwar membantahnya dan mengatakan bahwa pria yang terdapat dalam video tersebut adalah seorang tukang parkir yang mengidap gangguan jiwa.

4. Hoaks Konspirasi Imunisasi Vaksin
Imunisasi menjadi salah satu perdebatan di masyarakat Indonesia, hal kemudian dibumbui menjadi sebuah hoaks yang beredar di masyarakat dan menakuti para orang tua untuk memberikan vaksin kepada anaknya.

Hoask tersebut menyebutkan bahwa vaksin mengandung zat berbahaya dan menjadi agenda negara Tiongkok untuk merusak generasi penerus bangsa Indonesia. Hoaks tersebut dilengkapi dengan beragam foto dampak penyakit yang diklaim disebabkan oleh vaksin.

5. Hoaks Rekaman Black Box Lion Air JT610
Kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan laut Karawang, Jawa Barat, pada Senin 29 Oktober 2018 menjadi isu yang banyak diperbincangkan di berbagai ruang publik dan media sosial termasuk menjadi bahan hoaks.

Pada 29 Oktober 2018 akunYouTube bernama Juragan Batik reborn mengunggah video berjudul "LION AIR JT610 tersebut Mengerikan Hasil Rekaman BLACK BOX" padahal isinya hanya sebuah tanggapan terhadap kasus tersebut.

6.Hoaks Telur Palsu atau Telur Plastik
Di awal 2018 masyarakat Indonesia sempat diresahkan dengan konten hoaks di Facebook mengenai beredarnya bahan makanan berupa telur palsu atau telur plastik di pasar tradisional dan supermarket yang disebut berasal dari Tiongkok.

Berdasarkan penelusuran oleh Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan Mabes Polri di lapangan, ternyata tidak ditemukan sama sekali bahan makanan berupa telur palsu atau telur plastik seperti yang beredari di Facebook.

7. Hoaks Penyerangan Tokoh Agama, Tanda Kebangkitan PKI
Hoask terkait kebangkitan PKI terus bermunculan, salah satunya di tahun ini. Ada konten hoaks terkait penyerangan seorang kyai atau tokoh agama.

Kepolisian yang turun tangan dan menelusuri kasus ini menemukan bahwa pelaku penyerangan adalah pengidap gangguan kejiwaan.

8. Hoaks Desain Kartu Nikah Poligami
Sebelumnya Kementerian Agama menyatakan akan merilis sebuah berkas pelengkap berupa Kartu Nikah. Di media sosial beredar konten hoaks yang menampilkan desain dari kartu nikah tersebut dan menampilkan kolom untuk empat foto istri.

Sebagian masyarakat Indonesia menaggap ini guyon. Namun sebagian ada yang menarasikannya sebagai kartu untuk melegalkan poligami.

9. Hoaks Makanan Mudah Terbakar Mengandung Lilin atau Plastik
Hoaks terkaait bahan makanan juga ditemukan terakit kandungannya yang berupa plastik dan mengandung senyawa berbahaya seperti lilin karena mudah terbakar.

Hal tersebut ramai diperbincangkan setelah adanya unggahan video seseorang menebarkan serbuk kopi tersebut ke api yang membuat nyala api makin besar dan menyambar.

BPOM dalam situs rwsmi menjelaskan semua produk pangan yang memiliki rantai karbon (ikatan antar atom karbon) serta mengandung lemak atau minyak dengan kadar air rendah, terutama yang berbentuk tipis dan berpori, seperti kerupuk dan makanan ringan lainnya pasti akan terbakar atau menyala jika disulut dengan api.

10. Hoaks Telepon Disadap dan Chat WhatsApp Dipantau Pemerintah
Sebuah pesan berantai melalui WhatsApp menyatakan bahwa seluruh percakapan dan panggilan telepon termasuk WhatsApp, Twitter, dan Facebook disadap oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.