Kolaborasi Perusahaan Tingkatkan Risiko Kehilangan Data

Mohammad Mamduh    •    Kamis, 22 Sep 2016 12:59 WIB
corporate
Kolaborasi Perusahaan Tingkatkan Risiko Kehilangan Data
Ilustrasi: Eljadindigital

Metrotvnews.com: Kolaborasi lebih dari satu perusahaan dalam era transformasi digital saat ini adalah hal yang biasa. Biasanya, kolaborasi melibatkan perusahaan yang tidak berada pada sektor bisnis yang sama.

Tujuannya hanya satu, yaitu memperluas target pasar yang batasannya sudah mulai menghilang karena inovasi teknologi. Di sisi lain, selain memberikan keuntungan, kolaborasi tersebut juga meningkatkan risiko kehilangan data.

Pemanfaatan teknologi dalam transformasi digital pasti menuntut perusahaan memberikan pelayanan yang lebih menarik dan kreatif. Salah satu landasannya adalah penerapan layanan lewat cloud alias secara virtual. Tidak hanya konsumen, pihak internal juga memanfaatkan layanan ini. Dari sinilah risiko kehilangan data itu muncul.

Berdasarkan survey yang diadakan Enterprise Strategy Group yang dikutip dari Dark Reading, sekitar 35 persen perusahaan menyebut bahwa 26-50 persen karyawan mereka secara rutin berbagi file secara digital dengan pihak luar perusahaan.

Fenomena ini meningkatkan risiko kehilangan data sensitif perusahaan. Hampir 98 persen pseserta survey mengatakan mereka kehilangan data penting, dan berakibat pada bisnis mereka dalam 12 bulan terakhir.

Survey ini juga melibatkan 200 ahli IT dan keamanan digital, yang bertanggung jawab dalam perencanaan, penerapan, dan operasional perusahaan terkait kebijakan keamanan informasi. Dalam implementasi keamanan digital, perusahaan ini juga telah menggunakan protokol umum, seperti EFSS (Enterprise Flie Sync and Share), FTP, atau EDRM.

"Sebagian besar perusahaan yang mengikuti survey ini merasa hilangnya data mereka disebabkan oleh beragam cara, yang selalu melibatkan pihak eksternal," kata analis senior ESG Doug Cahill.



Informasi sensitif tersebut bisa diakses secara tidak sengaja melalui perangkat penyimpanan yang hilang, data autentikasi yang dicuri, malware, sampai mengirim email ke pihak yang salah. Tentu saja, ada juga aksi pencurian data yang dilakukan secara terang-terangan oleh kompetitor.

Pada intinya, kehilangan data sensitif dalam kolaborasi antar perusahaan bukan semata-mata karena adanya hacker yang terlibat. Pihak internal sendiri juga berperan sebagai pencurinnya. Sekitar 27 persen responden mengatakan bahwa mereka telah kehilangan data penting dari karyawan internal.

Data sensitif sesungguhnya juga termasuk beberapa informasi penting yang menjadi milik bagian personalia. Beberapa informasi keuangan bisa secara tidak sengaja terkespos melalui sistem pembayaran gaji otomatis perusahaan. Biasanya, celah ini muncul ketika perusahaan menggandeng pihak ketiga yang menyediakan sistem payroll.

Oleh karena itu, kolaborasi perusahaan di era transformasi digital hendaknya juga dibarengi dengan pengembangan sistem keamanan digital dari masing-masing pihak. Ini sebagai senjata utama perusahaan sendiri dalam menangkal serangan siber dari kompetitor.

Selain itu, perusahaan juga harus secara rutin memberikan edukasi kepada karyawannya, terkait cara berbagai data kepada pihak luar, apalagi dengan semakin menjamurnya tren BYOD.


(MMI)