Kecerdasan Buatan Google Bisa Prediksi 95% Kapan Anda Wafat

Cahyandaru Kuncorojati    •    Rabu, 20 Jun 2018 11:07 WIB
googlekecerdasan buatan
Kecerdasan Buatan Google Bisa Prediksi 95% Kapan Anda Wafat
Ilustrasi.

Jakarta: Teknologi AI (kecerdasan buatan) Google kembali membuat kontroversi dalam pengembangannya.

Dikutip dari Fox News, teknologi mereka bisa memprediksi berapa usia seseorang dan kapan mereka wafat dengan tingkat akurasi 95 persen. Kabar pengembangan dan penelitian teknologi ini pertama kali dirilis pada jurnal Nature.com yang dibuat oleh tim yang dipimpin Albin Rajkomar dan Eyal Oren.

Dijelaskan bahwa algoritma AI Google mengumpulkan dan mempelajari begitu banyak data catatan medis dari 216 ribu jiwa orang berusia dewasa selama 24 jam di dua buah pusat perawatan medis.

Tentunya catatan medis yang digunakan adalah dalam bentuk digital yang bisa langsung diolah oleh teknologi AI Google. Ada beberapa jenis indikator yang diolah, tingkat kematian pasien, standar kualitas perawatan, tolok ukur pemanfaatan sumber daya atau fasilitas misalnya berapa lama pasien harus dirawat, dan hasil diagnosis penyakit pasien.

Jadi AI Google mengolah seluruh catatan medis yang ada dan menjadikan beberapa indikator untuk menentukan usia maupun kapan pasien wafat.

Hasil penelitian menyebutkan tingkat akurasi sebesari 95 persen, dan sudah diuji oleh data milik University of California, San Francisco, dan University of Chicago Medicine.

Famili Medicine Physician Dr. Mikhail Varshavski yang diwawancarai oleh Fox News menyebutkan bahwa penemuan ini adalah kabar gembira sekaligus kabar buruk. Kabar baiknya adalah teknologi AI Google mampu membantu dunia media mengolah data catatan medis seluruh pasien dan memberikan prediksi awal.

"Kabar buruknya adalah catatan medis merupakan sesuatu yang bersifat rahasia atau berisi privasi. Ada yang hal yang harus dipastikan bahwa data yang digunakan dikembalikan untuk pasien dan bukan dimanfaatkan oleh perusahaan itu sendiri. Baik pihak Google maupun penyedia layanan media harus memperhatikan hal ini," jelas Varshavski.

Sebagai seorang dokter dia juga menekankan bahwa teknologi ini juga harus tetap menaruh validasi pada manusia atau sang dokter sendiri. Dia mengingatkan, catatan medis yang salah bisa menghasilkan prediksi yang salah juga. Jadi tugas seorang dokter atau ahli medis tetap dibutuhkan dalam proses diagnosis pasien.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.