Demi Perangi Ekstremisme, Inggris Pajaki Perusahaan Internet?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 01 Jan 2018 17:20 WIB
media sosialfacebookgoogle
Demi Perangi Ekstremisme, Inggris Pajaki Perusahaan Internet?
Pemerintah Inggris berencana untuk memberikan pajak ekstra pada perusahaan internet. (AFP PHOTO / LIONEL BONAVENTURE)

Jakarta: Pemerintah Inggris merasa, usaha perusahaan-perusahaan internet untuk mengatasi ekstremisme online masih tidak cukup. Karena itu, mereka mempertimbangkan untuk memajaki perusahaan-perusahaan tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan Sunday Times, Menteri Keamanan, Ben Wallace berkata, pemerintah Inggris bisa menggunakan pajak tersebut untuk mendorong gerakan anti-ekstremis yang lebih baik atau sebagai kompensasi atas "kelambanan" para perusahaan internet. 

Meskipun Wallace tidak menjelaskan pajak ini secara detail, Times mengimplikasikan bahwa pemerintah akan memajaki keuntungan besar yang didapat oleh para perusahaan internet. Menurut laporan Engadget, di mata Wallace, perusahaan internet adalah "pengejar laba yang kejam" yang akan mendahulukan "keuntungan daripada keamanan masyarakat."

Perusahaan-perusahaan itu akan menjual informasi pengguna ke rentenir, dia mengklaim, tapi tidak akan memberikan informasi itu pada pemerintah Inggris. Perusahaan-perusahaan internet yang diserang oleh Wallace membantah klaim sang menteri. Simon Milner dari Facebook berkata bahwa Wallace "salah".

Milner menyebutkan, Facebook menghaiskan "jutaan poundsterling" untuk menanamkan investasi pada orang-orang dan teknologi untuk menemukan konten teroris. Dia menyebutkan, Facebook telah memiliki "pencapaian yang signifikan" berkat penggunaan pembelajaran mesin, manusia sebagai reviewer dan kerja sama dengan pihak ketiga. 

Sejauh ini, rencana Wallace tidak lebih dari wacana. Karena itu, masih belum diketahui apakah perusahaan teknologi akan diminta untuk membayar pajak tersebut. Selain itu, pernyataan Wallace ini tampaknya dibuat berdasarkan asumsinya sendiri.

Memang, mudah untuk mengklaim bahwa usaha Facebook atau Google untuk memerangi ekstremisme online tidak cukup. Namun, pemerintah harus bisa memberikan data yang nyata sebelum memajaki perusahaan-perusahaan internet.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.