Serangan DDoS Terbesar Bikin GitHub Mati 5 Menit

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 05 Mar 2018 12:16 WIB
cyber security
Serangan DDoS Terbesar Bikin GitHub Mati 5 Menit
Ilustrasi.

Jakarta: Minggu lalu, GitHub mengaku bahwa mereka telah menjadi korban dari serangan DDoS terbesar yang pernah ada dalam sejarah.

DDoS, yang merupakan singkatan dari Distributed Denial of Service, adalah serangan siber yang bertujuan untuk membuat situs atau layanan berbasis internet tidak bisa diakses dengan membanjiri target dengan begitu banyak trafik sehingga mereka tidak bisa menanganinya.

Seperti yang disebutkan oleh TechCrunch, metode ini biasanya digunakan untuk membuat target tidak bisa diakses secara online. 

GitHub memang biasa menjadi korban serangan hacker. Pada 2015, GitHub mengalami serangan selama lima hari. Serangan itu diduga dilakukan oleh pemerintah Tiongkok. Namun, serangan terbaru ini memecahkan rekor dengan trafik 1,35Tbps pada puncak serangan. 

Dalam sebuah blog post, GitHub menjelaskan bahwa para penyerang telah mengambil alih "memcaching" -- sistem memori terdistribusi yang dikenal karena memiliki performa tinggi -- untuk meningkatkan volume trafik yang menuju GitHub.

Wired melaporkan, sistem yang menggunakan memcache dapat meningkatkan volume data hingga sekitar 50 kali lipat. 



GitHub kemudian meminta bantuan dari Akamai Prolexic, yang mengarahkan trafik ke GitHub menunju server mereka dengan tujuan untuk menghapus dan memblokir data yang merupakan bagian dari serangan.

Dalam waktu delapan menit setelah diserang, para penyerang menghentikan serangannya. Pada akhirnya, GitHub hanya tidak bisa diakses selama lima menit.

GitHub memiliki peran penting untuk semua perusahaan yang mengembangkan software. Memang, GitHub sempat tidak bisa diakses. Namun, cepatnya pemulihan dari serangan ini merupakan kabar baik. GitHub berkata, mereka akan terus menganalisis serangan ini dan serangan lain untuk memastikan pertahanan siber mereka memadai. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.