F5 Networks Buat Program Kolaborasi Operasi Jaringan dan Developer

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 02 Apr 2018 10:44 WIB
f5 networkscorporatetransformasi digital
F5 Networks Buat Program Kolaborasi Operasi Jaringan dan Developer
Ilustrasi.

Jakarta: Perkembangan bidang IT di dunia memang disambut baik oleh profesional IT dengan segala macam tantangannya. Namun F5 Networks menemukan bahwa masih ada kesenjangan antara beberapa bidang profesional IT.

Perkembangan lanskap ancaman dan lingkungan multi-cloud telah mendorong peningkatan permintaan akan layanan aplikasi untuk dihadirkan dengan cara yang lebih otomatis.

Kebutuhan akan efisiensi yang lebih besar di dalam infrastruktur IT ini telah menciptakan kesenjangan di antara para profesional yang ahli di bidang teknologi fundamental dan teknologi baru. Hal utama inilah yang telah diidentifikasi perusahaan sebagai penghambat menuju kesuksesan.

"Ketika berbicara dengan banyak pelanggan kami, ada satu kesamaan yang nyata, yaitu kesenjangan dalam hal praktik kerja dan kolaborasi antara tim NetOps dan DevOps," ungkap Senior Vice President, Asia Pasifik, China dan Jepang, F5 Networks Adam Judd.

"Karena kebutuhan akan layanan IT melampaui kemampuan pendekatan manual yang berbasis fungsi, F5 berkomitmen untuk menjawab tantangan ini secara langsung, dan membantu industri bertumbuh dengan tool dan skill (SDM) yang tepat," imbuhnya.

Salah satu program yang diinisiasi oleh F5 Networks sebagai solusi atas kondisi tersebut adalah lewat program bernama Supe-NetOps yang akan berkontribusi langsung terhadap SDM di bidang IT perusahaan untuk mendukung efisiensi di bidang IT.

Super-NetOps F5 bertujuan untuk mentransformasi komunitas operasi jaringan (NetOps) agar berkolaborasi dengan para pengembang (DevOps) mendorong peralihan dari praktik-praktik manual yang berbasis tugas untuk mencapai tingkat otomatisasi yang lebih baik, perbaikan yang berkesinambungan, dan pengembalian investasi bisnis.

F5 Networks menjelaskan bahwa inisiatif ini hadir seiring pemerintah di seluruh wilayah Asia Pasifik tengah menerapkan kebijakan untuk mengurangi kesenjangan dalam beberapa bidang keterampilan tertentu.

Misalnya, ketika anggaran pendidikan pemerintah Indonesia meningkat dua kali lipat pada 2018 menjadi Rp444,1 triliun dari Rp208 triliun pada 2009. Peningkatan ini karena pemerintah terus mengupayakan agar sumber daya manusia (SDM) Indonesia kompeten pada hard dan soft skill.


(MMI)

Begini Performa Ponsel Selfie Xiaomi Redmi S2
Review Smartphone

Begini Performa Ponsel Selfie Xiaomi Redmi S2

2 weeks Ago

Xiaomi masuk industri smartphone selfie dengan merilis Xiaomi Redmi S2. Begini performanya. …

BERITA LAINNYA
Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.