Tour de France, Ajang Olahraga yang Ikut Kena Digital

Mohammad Mamduh    •    Minggu, 03 Sep 2017 17:35 WIB
corporatetransformasi digitaldimension data
Tour de France, Ajang Olahraga yang Ikut Kena Digital
Ajang balap sepeda iternasional Tour de rFrance 2017. (Tour de France)

Metrotvnews.com, Senggigi: Transformasi digital merambah berbagai sektor bisnis, tak terkecuali olahraga.

Meskipun tidak murni membantu meningkatkan profit, penerapan teknologi digital di bidang olahraga lebih kepada meningkatkan performa pemain dan memberikan pengalaman yang lebih nyata kepada para penikmatnya. Contohnya terlihat dari ajang balap sepeda internasional Tour de France 2017.

Bekerja sama dengan Dimension Data, penyedia layanan big data asal Afrika Selatan milik grup telekomunikasi Jepang NTT, Tour de France menggunakan berbagai perangkat yang mampu mengumpulkan berbagai data. Salah satu perangkat ini berupa sensor yang dibawa setiap peserta balap.

“Kita pasang sensor di bawah pedal sepeda peserta,” kata Hendra Lesmana, Country General Menager Dimension Data Indonesia.

Hendra melanjutkan, pertimbangan Amaury Sport Organisation, penyelenggara Tour de France dalam menggandeng Dimension Data dalam implementasi cloud ini adalah karena mereka juga punya tim profesional balap sepeda yang selalu rutin ikut kompetisi internasional, sehingga penerapannya bisa lebih cepat.

Sensor yang terpasang di bawah pedal sepeda peserta akan mengumpulkan berbagai data untuk kebutuhan analisis, seperti kecepatan laju sepeda, arah angin, kecepatan angin, daya tempuh dari satu titik ke titik berikutnya, dan di titik mana sepeda berhenti atau meningkatkan kecepatan.

Namun, tidak gampang mengumpulkan data itu secara real-time karena jumlahnya yang banyak. Cara mengakalinya adalah dengan memanfaatkan helikopter pemantau balapan untuk menangkap dan memancarkan sinyal.

Singkatnya, sinyal dari sensor akan ditangkap oleh helikopter, yang kemudian dipancarkan kembali ke satelit. Sinyal dari satelit akan ditangkap oleh truk pengumpul data Dimension Data, kemudian didistribusikan untuk berbagai keperluan. Kecepatan transmisi data dari peserta balap sampai ke truk mencapai 1Gbps. “Truk ini terhubung dengan banyak truk lainnya, seperti truk milik media,” lanjut Hendra.

Data yang didapatkan oleh media bisa menjadi tampilan statistik di layar televisi, sehingga penonton bisa mendapatkan pengalaman yang lebih nyata. Penonton jadi mendapatkan gambaran yang lebih rinci seperti apa kondisi balapan, dan menciptakan prediksi pertandingannya sendiri. Dengan begitu, mereka juga bisa lebih semangat mendukung pebalap favoritnya.

Ada tantangan tersendiri ketika menerapkan big data dalam Tour de France. Pertama adalah satu truk milik Dimension Data harus berpindah tempat menyesuaikan lokasi balap. “Ini karena tempat finish selalu berganti. Setelah balapan selesai, truk harus berpindah lokasi. Setiap pindah perlu waktu paling cepat 4 jam,” kata Hendra.

Tantangan kedua adalah percobaan serangan siber. Ada sekitar 1.370.534 data yang tidak mendapat otorisasi dan diblok, dan 147 serangan dari bad bot yang berhasil dihentikan. Selain itu, ada sekitar 1,4 juta percobaan akses mencurigakan selama Tour de France 2017.

Indonesia sendiri juga punya banyak ajang balap sepeda, walaupun tidak semuanya melibatkan peserta profesional. Saat ditanya apakah big data bisa diterapkan dalam jenis kompetisi yang sama di Indonesia, Hendra menjawab bisa, tetapi tidak untuk saat ini. Alasannya adalah lebih kepada antusiasme masyarakat yang belum sebesar di luar negeri.


(MMI)