Setelah Kota, T-Cash Bidik Pelanggan dari Pedesaan

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 05 Dec 2017 17:55 WIB
telkomseltelekomunikasi
Setelah Kota, T-Cash Bidik Pelanggan dari Pedesaan
CEO T-Cash, Danu Wicaksana. (MTVN)

Jakarta: Dari 261 juta penduduk Indonesia, hanya 40 persen yang memiliki akun bank. Menariknya, pelanggan seluler justru mencapai 133 persen dari total populasi.

Itu artinya, cukup banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan lebih dari satu SIM card atau lebih dari satu ponsel. 

Sebagai perusahaan penyedia jasa telekomunikasi, Telkomsel merasa bisa membantu masyarakat yang tidak memiliki akun bank -- yang sering disebut unbanked -- untuk mendapatkan akses ke layanan keuangan.

"Sebanyak 133 persen populasi Indonesia memiliki ponsel dan SIM card," kata CEO T-Cash, Danu Wicaksana saat ditemui di kantornya. "Mobile bisa jadi channel yang sangat efektif untuk meningkatkan inklusi keuangan."

Menariknya, T-Cash -- uang elektronik dari Telkomsel -- tidak hanya menyasar masyarakat perkotaan yang sudah hampir pasti memiliki smartphone. Mereka juga ingin menjadikan warga pedesaan sebagai pengguna. Danu menjelaskan, pengguna T-Cash terbagi dua, yaitu pengguna lifestyle dan pengguna mikro. 

"Pengguna lifestyle biasanya ada di kota-kota besar," kata Danu. Biasanya, pengguna ini memanfaatkan T-Cash untuk memudahkan mereka ketika berbelanja di lebih dari 50 ribu merchant yang bekerja sama dengan T-Cash, seperti KFC dan Starbucks.

"Sementara pengguna mikro sebagian besar adalah kaum unbanked. Mereka berhak untuk mendapatkan akses ke perbankan, tapi belum terjangkau oleh bank nasional. Kami mencoba untuk memasukkan mereka dengan teknologi mobile yang kita punya."

Meski identik dengan stiker berwarna merah pada bagian belakang ponsel, T-Cash sebenarnya menawarkan 4 cara untuk menggunakan saldo yang ada, yaitu stiker, aplikasi mobile, aplikasi web, dan USSD (Unstructured Supplementary Service Data), yaitu protokol yang digunakan oleh perangkat telekomunikasi untuk berkomunikasi dengan penyedia layanan. 



Danu menjelaskan, saat ini, metode penggunaan T-Cash yang paling banyak digunakan adalah USSD.

"Karena pengguna mikro hampir 100 persen tidak memakai smartphone," katanya. Melalui USSD, maka pengguna yang tidak menggunakan smartphone sekalipun bisa memanfaatkan T-Cash. Metode yang paling banyak digunakan lainnya adalah aplikasi. 

Untuk para pengguna mikro, T-Cash tidak hanya digunakan sebagai alat pembayaran, tapi juga untuk mengakses layanan keuangan, seperti mengecek saldo tabungan, transfer, pembayaran dan bahkan tarik tunai.

Melalui T-Cash, pengguna juga bisa mengisi pulsa, membeli token listrik dan membayar tagihan, mulai dari tagihan air, asuransi hingga BPJS.

Pengguna juga bisa mengirim uang ke temannya melalui fitur P2P (Peer-to-Peer). Pengguna bisa menggunakan nomor rekening atau nomor ponsel untuk mengirimkan uang ke penerima. 

Ke depan, T-Cash juga ingin bekerja sama dengan bank untuk bisa memberikan pinjaman pada pengguna di pedesaan.

Danu menjelaskan, dana yang ditawarkan akan mencapai Rp500 ribu. Dia mengaku jumlah itu memang tidak terlalu besar, tapi masyarakat di pedesaan -- terutama mereka yang tidak memiliki akses ke bank -- membutuhkan layanan tersebut. 

Tidak hanya memperbanyak merchant yang menerima pembayaran T-Cash, T-Cash juga berusaha untuk memudahkan pengguna mengisi saldo. Saat ini, pengguna T-Cash dapat mengisi saldo di 60 ribu titik layanan, yaitu melalui jaringan ATM Bersama, GraPARI, Mobile GraPARI, swalayan Indomaret dan Alfamart juga di kios pulsa Telkomsel.


(MMI)