Google Kena Tuntut Gara-Gara Tolak Pelamar Kulit Putih dan Asia

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 05 Mar 2018 11:46 WIB
youtubegoogle
Google Kena Tuntut Gara-Gara Tolak Pelamar Kulit Putih dan Asia
Mantan pegawai YouTube menuntut Google.

Jakarta: Mantan pegawai YouTube menuntut Google atas tuduhan memaksa para perekrut untuk hanya menerima pelamar kerja perempuan, berkulit hitam, atau keturunan Amerika Latin.

Ialah Arne Wilberg, orang yang telah bekerja di Google selama sembilan tahun, yang menuntut Google atas diskriminasi pada Januari, lapor Wall Street Journal

Wilberg mengklaim, Google mengimplementasikan "peraturan yang jelas dan tak terbantahkan" yang bertujuan untuk mencegah perekrut menerima pelamar berkulit putih atau Asia dengan tujuan untuk membuat pegawai Google menjadi semakin beragam.

Dia juga mengklaim, Google justru balik menyerangnya ketika dia memprotes peraturan ini. Pada akhirnya, dia dipecat pada November 2017. 

Tuntutan ini menargetkan Google dan 25 pegawai Google yang tak disebutkan namanya atas tuduhan membuat peraturan perekrutan yang diskriminatif. Sebagai bukti, dia menyerahkan sejumlah email dan dokumen lain sebagai bukti.

Tuntutan itu mengklaim, selama beberapa kuartal, Google hanya akan menerima orang yang berasal dari grup minoritas untuk posisi teknis. 

Dalam sebuah periode perekrutan, tim perekrut disebutkan diminta untuk membatalkan semua wawancara dengan orang-orang dari grup mayoritas yang tidak memenuhi batas pengalaman tertentu dan menolak pelamar kerja yang merupakan bagian dari grup mayoritas.

Padahal, peraturan terkait tenaga kerja di California melarang perusahaan untuk menolak mempekerjakan seseorang berdasarkan karakteristik seperti ras dan jenis kelamin. 

Wilberg menyebutkan, beberapa pegawai memprotes hal ini pada Google, tapi mereka tidak diacuhkan, dipindahtugaskan atau bahkan diturunkan jabatannya. Dalam tuntutannya, juga disebutkan bahwa sebagian pekerja yang merupakan grup minoritas merasa tidak nyaman dengan program yang disebut "Proyek Cermin".

Melalui proyek ini, pegawai dari grup minoritas akan diminta untuk mewawancara kandidat yang memiliki ras atau jenis kelamin yang sama dengan mereka. 

Google berkata, "Kami punya peraturan yang jelas untuk menerima calon pegawai berdasarkan keahlian mereka bukan identitas mereka... Pada saat yang sama, kami tidak merasa bersalah karena mencoba untuk mempekerjakan pegawai dengan latar belakang yang beragam untuk lowongan pekerjaan yang kami buka, karena ini akan membantu kami untuk menemukan pekerja terbaik, memperbaiki budaya kami dan juga mengembangkan produk yang lebih baik."


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.