Kasus Bunuh Diri di Pabrik iPhone Tiongkok Bisa Picu Kekhawatiran Pekerja

Lufthi Anggraeni    •    Senin, 08 Jan 2018 13:44 WIB
applefoxconn
Kasus Bunuh Diri di Pabrik iPhone Tiongkok Bisa Picu Kekhawatiran Pekerja
Isu bunuh diri di Foxconn Tiongkok dinilai dapat memicu peningkatan kekhawatiran terkait kondisi pekerja.

Jakarta: Organisasi hak pekerja Tiongkok berbasis di Australia mengklaim bahwa pekerja perusahaan perakit iPhone di Tiongkok meninggal dunia setelah lompat dari bangunan pabrik pada hari Sabtu lalu.

China Labor Watch (CLW) menyebut bahwa Li Ming, 31, meninggal dunia setelah melompat dari gedung yang berlokasi di kota Zhengzhou, provinsi Henan, Tiongkok. Li diketahui merupakan salah satu pekerja di Foxconn.

Kematiannya memicu perbandingan kasus bunuh diri pada tahun 2010 dan 2011 di pabrik Foxconn di Tiongkok, di tangah kekhawatiran terkait kondisi kerja. CLW juga mengunggah potongan video menampilkan Li, yang diklaim CLW dapat bekerja di Foxcon dengan bantuan agensi, terbaring dalam kondisi tidak bernyawa.

Cuplikan video yang diperkirakan direkam dari gedung tinggi di sebelahnya tersebut menampilkan tubuh yang terbaring di permukaan tanah tertutup salju, dan empat orang lain yang tengah berdiri di sekitarnya, seperti yang dikutip dari Telegraph UK.

CLW mengaku telah berbicara kepada ayah Li, namun masih belum diketahui secara pasti alasan mendorong Li memutuskan untuk melompat dari gedung. Organisasi ini juga menyebut bahwa Li telah bekerja di Foxconn selama dua bulan dan tinggal di fasilitas asrama pabrik.

Sementara itu hingga saat ini, perwakilan Foxconn belum memperikan respon saat dimintain keterangan via email terkait dengan insiden tersebut. Klaim CLW ini dinilai berpotensi untuk menyulut kontroversi terkait kondisi kerja dari pekerja di Foxconn.

Sebab, perusahaan asal Taiwan tersebut merupakan perusahaan swasta perekrut tenaga kerja terbesar di Tiongkok, dengan jumlah pegawai diperkirakan mencapai 1,2 juta. Klaim ini juga bukan pertama kalinya untuk Foxconn.

Pada tahun 2010, Foxconn juga menghadapi tuduhan serupa terkait pemaksaan pekerja untuk bertahan pada kondisi kelelahan untuk dapat menyelesaikan tugas mereka, berakibat mendorong kenaikan tingkat bunuh diri pada tahun tersebut.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.