Korea Utara Minta Bukti Tuduhan AS Terkait Ransomware

Cahyandaru Kuncorojati    •    Jumat, 29 Dec 2017 15:44 WIB
cyber securitywannacry
Korea Utara Minta Bukti Tuduhan AS Terkait Ransomware
Banyak negara meyakini serangan ransomware WannaCry yang menyerang 150 negara di bulam Mei didalangi oleh Korea Utara.

Jakarta: Beberapa waktu lalu Amerika Serikat menyatakan serangan ransomware WannaCry yang terjadi di 150 negara didalangi Korea Utara. Tidak terima, kini Korea Utara menagih bukti lengkap tuduhan tersebut.

Dilaporkan Associated Press, Korea Utara meanggap tuduhan tersebut tidak berdasar, karena hingga saat ini pihak Amerika Serikat tidak memberikan bukti yang lengkap.

Dalam sebuah percakapan singkat lewat telepon antara perwakilan Korea Utara di PBB, pihak Korea Utara menganggap hal ini merupakan pemicu untuk memperbesar atmosfer perselisihan beberapa negara dengan Korea Utara, terutama Amerika Serikat.

"Tindakan tersebut merupakan provokasi politik yang dilancarkan oleh Amerika Serikat untuk membuat ketegangan antara dunia internasional terhadap Korea Utara.," ungkap perwakilan Korea Utara.

Meskipun akses internet di Korea Utara dikabarkan sangat terkontrol dan dibatasi oleh pemerintahnya sehingga tidak semua warga negaranya bisa mengakses tapi berbagai negara yang menyelidiki serangan ransomware menemukan jejak yang mengarah ke Korea Utara.

Pihak Amerika Serikat beranggapan serangan ransomware yang dituduhkan ke Korea Utara dilakukan sebagai bentuk balasan negara tersebut atas film karya Sony Pictures berjudul The Interview yang mengejek Presiden Korea Utara Kim Jong Un.

Inggris juga sepakat dengan Amerika Serikat dalam temuan yang diumumkan pada 19 Desember lalu diketahui grup penjahat siber Lazarus adalah dalang serangan WannaCry. Penyelidikan kedua negara tersebut menemukan grup Lazarus memiliki afiliasi dengan Korea  Utara.

Seperti yang diketahui di bulan Mei lalu, tidak kurang 150 negara menjadi korban serangan ransomware WannaCry yang menyerang perangkat komputer dari instansi atau perusahaan yang bergerak di bidang vital, misalnya rumah sakit, perbankan, tambang, dna lain-lain.

WannaCry mengunci akses data di dalam perangkat komputer sehingga tidak bisa diakses oleh penggunanya. WannaCry akan meminta tebusan untuk membuka akses data tersebut yang ternyata justru penipuan semata.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.