Ini Alasan Avast Akuisisi AVG

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 03 Oct 2016 11:41 WIB
cyber security
Ini Alasan Avast Akuisisi AVG
CEO Avast bersama analis dari Avast Threat Labs.

Metrotvnews.com: Minggu lalu, perusahaan keamanan siber, Avast telah mengonfirmasi bahwa mereka telah menyelesaikan akuisisi perusahaan antivirus AVG senilai USD1.4 miliar (Rp18,2 triliun).

Dengan begitu, pelanggan Avast akan melonjak naik, dari 230 juta orang menjadi lebih dari 400 juta orang. Sebanyak 160 juta orang di antaranya adalah pengguna mobile

Rencana akuisisi ini pertama kali diumumkan di bulan Juli lalu. Salah satu alasan Avast tertarik untuk mengakuisisi AVG adalah kedekatan geografis. Selain itu, mereka juga berencana untuk membuat produk keamanan untuk industri Internet of Things (IoT).

Avast berkata, gabungan kedua perusahaan keamanan ini menjangkau satu per tiga pengguna PC dunia di luar Tiongkok. Kemungkinan, merek Avast dan AVG akan tetap beroperasi secara terpisah, tergantung pada pasar yang mereka kuasai.

Setelah akuisisi ini, akan ada pemecatan untuk menghilangkan posisi yang memiliki tugas yang sama, tapi Avast tidak memberitahu berapa banyak orang yang dipecat atau di mana pemecatan ini akan terjadi.

Saham AVG dihargai USD25 (Rp325 ribu) per lembar dengan total nilai perusahaan USD1.3 miliar (Rp16,9 triliun). Namun, CEO Avast Vince Steckler berkata, AVG juga memiliki utang senilai USD100 juta (Rp1,3 triliun) yang harus dibayar, karena itu total nilai akuisisi ini menjadi USD1.4 miliar.

Akuisisi ini diselseaikan sesuai dengan jadwal yang dibuat sebelumnya.

Pada TechCrunch, Steckler mengaku Avast telah lama ingin mengakuisisi AVG. Tidak heran, mengingat mereka bermain di industri yang sama dan berasal dari negara yang sama: Republik Ceko. Tahun ini, akhirnya Avast berhasil meyakinkan AVG bahwa mereka lebih baik menyatu sebagai satu perusahaan.

"Kali ini, kalau saya tidak salah, adalah usaha kami yang ke-4 dalam waktu 2 atau 2,5 tahun belakangan untuk membeli AVG," kata Steckler. "Kami mendekati mereka, kami lelah karena terus ditolak -- jadi kami mendekati mereka untuk terakhir kalinya dan memberitahu mereka bahwa kami akan membayar sejumlah ini, tidak lebih, tanpa negoisasi, jawab kami dengan iya atau tidak. Dan mereka berkata iya. Proses ini selesai dengan sangat, sangat cepat -- hanya dalam hitungan hari."

Meskipun semangat kompetisi -- "harga diri dan kesombongan" menurut Steckler -- telah membuat Avast dan AVG berdiri sebagai perusahaan mandiri selama bertahun-tahun, fakta bahwa industri komputer dan pasar keamanan mulai berubah memaksa mereka untuk berdiri bersama. "Masa depan akan lebih cerah untuk satu entitas besar daripada dua entitas lebih kecil yang berdiri terpisah," kata Steckler.

Salah satu motivasi yang menyatukan Avast dan AVG adalah teknologi pembelajaran mesin yang kini digunakan pada banyak solusi keamanan dan kebutuhan AI akan data dalam jumlah yang sangat besar.

"Sekarang ini, keamanan -- untuk perusahaan-perusahaan besar -- selalu menyangkut big data. Kita tidak lagi berbicara tentang masalah klasik. Produk-produk sekarang dibuat dengan pembelajaran mesin big data, dan ia sangat tergantung pada data dalam jumlah besar untuk memproses dan menentukan apa yang bagus dan tidak," katanya.

"Menambahkan 160 juta pelanggan AVG ke 240 juta pelanggan kami memberikan kami banyak data untuk melakukan analisis -- yang akan meningkatkan hasil keamanan dan memungkinkan kami menjadi lebih baik dari yang lain," ujar Steckler.

Alasan lainnya adalah karena menurunnya pendapatan antivirus tradisional, terutama karena kini, produk gratis/freemium mendominasi pasar. Pendapatan dari antivirus juga menurun karena menurunnya penjualan PC.

"Industri keamanan telah mulai menjadi matang dan, setidaknya di sisi konsumen, pasar telah didominasi oleh model gratis dan freemium," kata Steckler. "Jadi, pangsa pasar untuk perusahaan-perusahaan seperti Norton dan McAfee dan Kaspersky telah menurun."

Namun, dia menegaskan, Avast dan AVG menguasai pasar yang saling melengkapi. AVG menguasai pasar negara-negara berbahasa Inggris sementara Avast menguasai negara non-bahasa Inggris. Dengan begitu, mereka bisa menghadapi masa sulit di masa depan dengan lebih baik.

"Fakta bahwa kami menguasai negara yang berbeda memungkinkan kami untuk menghadapi naik-turun pasar," kata Steckler.


(MMI)

Mengulik Ponsel Berdaya 13 Jam LG X Power
Review Smartphone

Mengulik Ponsel Berdaya 13 Jam LG X Power

1 week Ago

LG X Power memang memiliki baterai yang awet dan dapat mengisi baterai dengan cepat. Sayangnya,…

BERITA LAINNYA
Video /