Indonesia Belum Siap Network Sharing

Lufthi Anggraeni    •    Kamis, 15 Sep 2016 16:51 WIB
telekomunikasi
Indonesia Belum Siap Network Sharing
Sejumlah pihak menyebut Indonesia belum siap terkait penerapan network sharing.

Metrotvnews.com, Jakarta: Lembaga Kajian Persaingan dan Kebijakan Usaha FHUI kembali menyelenggarakan seminar dan diskusi bertema "Implementasi Network Sharing dan Frequency dan Implikasinya terhadap Industri Telekomunikasi Seluler", hari ini, Kamis (15/9/16), di Universitas Indonesia Salemba.

Pada seminar tersebut, Indonesia dinilai belum siap dalam menerapkan sistem Network Sharing yang berdampak pada terciptanya persaingan usaha yang sehat dan efisien.

Hal ini dikarenakan pemain jaringan telekomunikasi di Indonesia dinilai belum memenuhi prasyarat yaitu kematangan jaringan, rendahnya jenjang kepemilikan jaringan serta tidak adanya operator dominan.

"Agar tujuan tercapai, pelaku industri ini perlu memenuhi tiga persyaratan dalam penetapan network sharing tersebut. Tanpa pemenuhan syarat ini, network sharing akan menjadi blunder dan tidak berguna," ujar Dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis UGM, Fahmi Radhi.

Kematangan jaringan, jelas Fahmi, diperlukan dengan agar tidak terjadinya celah wilayah yang belum tercakup oleh layanan yang disediakan operator seluler. Menurutnya, kondisi jaringan belum matang dikhawatirkan akan menimbulkan persaingan tidak sehat antar penyedia layanan, serta merugikan konsumen akibat tingginya harga yang dibebankan kepada konsumen.

Network sharing juga dinilai hanya akan menguntungkan bagi operator yang belum memiliki jaringan yang cukup kuat di wilayah tertentu. Sebaliknya, penerapan network sharing jaringan dinilai akan merugikan pemilik jaringan. Pemilik jaringan dirugikan karena membebankan biaya investasi dan operasional jaringan dalam pembentukan harga, sementara operator lain menanggung biaya interkoneksi saja.

Tercapainya persyaratan tersebut juga akan berdampak pada peningkatan daya beli masyarakat. Selain itu, Fahmi juga menekankan pentingnya regulasi yang mewajibkan operator untuk membangun infrastruktur jaringan. Jika tidak, lanjutnya, penerapan network sharing akan terhambat dan mungkin akan terhenti, sehingga akan merugikan konsumen.

Pendapat Fahmi ini juga diamini oleh Komisioner KPPU, Nawir Messi, yang juga menilai pemenuhan prasyarat untuk network sharing penting untuk dapat meciptakan persaingan yang sehat. Persyaratan ini juga bertujuan bisa menciptakan level playing field atau pergerakan di tataran yang sama di kalangan operator.

Level playing field ini juga dinilai Nawir, berperan penting dalam penentuan tarif offnet atau tarif yang dibebankan kepada konsumen, yang menjadi payung besar dari tarif interkoneksi. Sebab menurutnya, saat ini tarif yang dibebankan kepada konsumen untuk dapat menerapkan network sharing mencapai 800 persen.

Nawir juga menyebut, tidak terpenuhinya persyaratan demi menciptakan pra-kondisi tersebut akan menimbulkan berbagai permasalahan yang berujung pada KPPU. Selain itu, Nawir juga menyebut, selama permasalahan ini tidak diselesaikan, maka cita-cita yang dicantumkan pada PP 53 terkait efisiensi tidak dapat tercapai.

Secara pribadi Nawir menyebut, penetapan harga untuk konsumen yang adil adalah 30 persen dari tarif interkoneksi. Angka tersebut dinilainya lebih baik jika dibandingkan harga 800 persen yang terjadi saat ini.


(MMI)

Video /