Mengapa Pembayaran Digital Lambat Berkembang di Indonesia?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 11 Nov 2016 15:22 WIB
telkomsel
Mengapa Pembayaran Digital Lambat Berkembang di Indonesia?
Rudy (kiri) dan Hendra (kanan).

Metrotvnews.com, Jakarta: Salah satu kendala Telkomsel untuk mengembangkan T-Cash adalah masalah edukasi, baik untuk pengguna T-Cash maupun kasir merchant yang menjadi rekan Telkomsel. 

"Kasir, terutama yang di covenience store seperti Indomaret di daerah, adalah kendala utama kami," kata Rudy Hamdani, VP Operations, Mobile Financial Services, Telkomsel saat ditemui, Jumat (11/11/2016) di KFC Kemang. "Edukasi tidak hanya ke pelanggan, tapi juga ke rekan, bagaimana agar mereka terbiasa dengan penggunaan T-Cash."

Rudy menjelaskan, pada akhirnya, layanan seperti T-Cash juga akan dapat membantu kasir rekan Telkomsel. "Mereka jadi tidak perlu simpan uang," katanya. "Kalau pun dirampok, uangnya tidak ada di mereka. Selain itu, manajemen keuangan juga jadi lebih mudah."

Selain itu, Telkomsel juga harus melakukan edukasi pada pelanggan, seperti menjelaskan bahwa T-Cash itu berbeda dengan pulsa. Dia mengatakan, pihak yang dianggap sebagai "musuh" T-Cash bukanlah layanan uang digital dari bank atau operator telekomunikasi lain, tapi uang tunai. 

"Musuh kita itu cash," kata Rudy. "Karena masih banyak orang yang lebih suka untuk menggunakan uang cash."

Dalam acara pengumuman kerja sama Telkomsel dengan KFC, General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia, KFC, Hendra Yuniarto menjelaskan, kerja sama ini merupakan salah satu cara KFC untuk menarik para remaja Indonesia. 

"T-Cash dapat menjadi alat pembayaran alternatif baru untuk anak muda atau remaja yang sering menggunakan ponsel," kata Hendra. Saat ditanya bagaimana cara untuk memastikan kasir tahu tentang penggunaan T-Cash, Hendra mengatakan, akan dilakukan pelatihan secara berkala.

Selain itu, fasilitas jaringan juga akan diperiksa. Semua ini dilakukan untuk meminimalisir pelanggan yang kecewa karena tidak bisa menggunakan T-Cash.


(ABE)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.