Empat Kota Penelur Startup Jadi Pesaing Silicon Valley

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 27 Dec 2018 11:36 WIB
startup
Empat Kota Penelur Startup Jadi Pesaing Silicon Valley
Ilustrasi.

Jakarta: Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat menjadi negara pemimpin terkait startup. Mereka tidak hanya menelurkan banyak startup, khususnya di bidang teknologi. Banyak juga startup yang berubah menjadi perusahaan besar terkemuka di dunia.

Namun, Silicon Valley kini punya pesaing: Tiongkok. Tidak aneh, di negara Tirai Bambu tersebut, 160 ribu perusahaan muncul setiap harinya. 

Menurut laporan pemerintah Tiongkok, jumlah unicorn -- startup dengan nilai perusahaan lebih dari USD1 miliar -- di negara itu mencapai 164 perusahaan pada 2017, naik 25 persen dari tahun sebelumnya.

Ini berarti jumlah unicorn Tiongkok lebih banyak dari unicorn Amerika Serikat. Meskipun begitu, menghitung valuasi perusahaan yang belum melakukan penawaran saham perdana (IPO) terkadang kurang tepat. 

Beijing mengharapkan para startup ini akan mengubah ekonomi di Tiongkok, yang hingga kini masih sangat menggantungkan diri pada perusahaan milik negara. Mulai dari perusahaan fintech sampai transportasi online, unicorn Tiongkok mulai memiliki pengaruh di kancah dunia, lapor Nikkei Asian Review

Kebanyakan unicorn Tiongkok ada di empat kota besar, yaitu Hangzhou, Shanghai, Shenzhen, dan Beiking. Hangzhou adalah tempat asal dari pemimpin e-commerce Alibaba.

Ia merupakan kota dengan jumlah startup terbanyak ketiga setelah Beijing dan Shanghai. Bisnis baru yang bergerak di bidang finansial, logistik, big data, dan e-commerce terus bermunculan. 



"Master Ma berkata big data akan menjadi fokus di masa depan," kata Chen Jiping, CEO startup analisis data, DTstack. Yang dia maksud dengan Master Ma adalah pendiri dan Chairman Alibaba, Jack Ma. Di Hangzhou, para pelaku bisnis menganggapnya sebagai seorang dewa. 

Sebelum mendirikan DTstack pada 2015, Chen bekerja untuk Alibaba selama 11 tahun. Pengalamannya untuk menganalisa data di Alibaba memungkinkannya menawarkan layanan untuk mengurus big data untuk para penjual retail.

Kebanyakan klien dari DTstack adalah perusahaan tradisional yan kesulitan mengintegrasikan teknologi ke bisnis mereka. 

Sementara itu, Shanghai kini menjadi pusat dari perkembangan ekonomi Tiongkok. Hal ini terjadi bahkan sebelum kata "startup" mulai dikenal.

Meskipun sebagian orang menganggap para pelaku bisnis di Shanghai enggan untuk mengambil risiko, kota ini adalah kota dengan jumlah startup terbanyak setelah Beijing. 

Salah satu startup ternama asal Shanghai adalah XNode, sebuah akselerator. Pada tahun ini, mereka bekerja sama dengan divisi lokal dari pembuat minuman keras asal Prancis, Pernod Richard. Tujuannya adalah untuk membuat sistem promosi menggunakan media sosial. 

XNode mencari startup yang bisa menyelesaikan masalah Pernod Richard. Mereka memilih 8 startup dari 123 peserta. Ke delapan startup itu lalu diminta untuk mengikuti program pelatihan mereka. Setelah tiga bulan, mereka kembali mengadakan kompetisi untuk memilih startup pemenang. 

Pernod tidak hanya mengadopsi sistem dari startup pemenang, mereka juga menanamkan investasi pada startup tersebut. XNode, yang didirikan pada 2015, juga melakukan proyek serupa dengan perusahaan pembuat mobil Jerman BMW dan perusahaan pembuat perangkat rumah, Haier Group. 

Shenzhen, yang ada di utara Hong Kong, dipilih sebagai zona ekonomi istimewa Tiongkok pada 1980. Perusahaan asing yang ingin masuk ke pasar Tiongkok via Hong Kong mengubah kota yang dulunya sebagai desa nelayan sebagai kota dagang. Kini, Shenzhen adalah pusat manufaktur elektronik di Tiongkok. 

Salah satu startup asal Shenzhen adalah Insta360. JK Liu mendirikan startup itu di Nanjing setelah dia belajar tentang teknik informatika di Nanjing University. Insta360 adalah kamera video 360 derajat yang kompatibel dengan ponsel.

Liu kemudian memutuskan untuk pindah ke Shenzhen pada 2015. Alasannya karena kurangnya teknisi hardware di Nanjing. Di Apple Stors, produk Insta360 memiliki rak tersendiri. Produknya juga dijual di lebih dari 100 negara. 

Kelebihan Beijing adalah posisinya sebagai pusat inovasi dan banyaknya modal, produk, dan SDM yang berkualitas. Kota ini memiliki jumlah startup terbanyak dan memiliki industri IT dan teknologi tinggi lainnya.

Di distrik Zhongguancun, terdapat Tsinghua University, Peking University, dan universitas nasional seperti Chinese Academy of Sciences. Kolaborasi antara industri dan akademisi menelurkan banyak startup


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.