Kecerdasan Buatan Berikan Pengalaman Bagus untuk Konsumen

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 03 Apr 2018 19:33 WIB
amazoncorporate
Kecerdasan Buatan Berikan Pengalaman Bagus untuk Konsumen
Ilustrasi.

Singapura: Kendaraan otonom dan drone pengantar barang adalah contoh dari dua teknologi yang kini tengah berkembang pesat meskipun kedua teknologi itu terdengar tidak mungkin diwujudkan beberapa tahn lalu.

Salah satu hal yang membuat teknologi seperti mobil otonom dan drone berkembang cepat adalah karena kini, machine learning atau pembelajaran mesin jauh lebih mudah diakses, memudahkan perusahaan untuk membuat kecerdasan buatan (AI).

Machine learning tidak hanya bisa digunakan oleh perusahaan besar dengan modal tanpa batas yang dapat membeli perangkat paling canggih yang ada.

Kini, perusahaan-perusahaan teknologi berusaha untuk mendemokratisasi pembelajaran mesin, membuat teknologi pembelajaran mesin bisa diakses oleh perusahaan kecil sekalipun dengan lebih mudah. 

Dalam AWS Summit 2018, Craig Stires, Head of AI, Analytics, Big Data, Asia Pasifik. AWS mengatakan, salah satu hal yang membuat klien AWS tertarik dengan AI adalah karena teknologi tersebut bisa digunakan untuk memberikan pengalaman penggunaan yang lebih baik. Misalnya melalui penggunaan chatbot.

Di Indonesia sendiri, mulai banyak perusahaan yang menyediakan chatbot untuk berkomunikasi dengan pelanggannya, seperti Vira dan BCA atau Veronika dari Telkomsel.

"Chatbot tidak hanya bisa mengurangi jumlah orang yang melakukan panggilan, tapi juga mengurangi lama waktu tunggu orang yang melakukan panggilan," kata Stires saat ditemui di Capri, Selasa (3/4/2018). 


Craig Stires, Head of AI, Analytics, Big Data, Asia Pasifik, AWS. (Medcom.id)

Olivier Klein, Head of Emerging Technologies, Asia Pasifik, AWS mengatakan, chatbot adalah salah satu produk yang bisa dihasilkan oleh Amazon Lex yang merupakan teknologi di balik asisten virtual Alexa. 

Amazon Lex adalah layanan yang memungkinkan perusahaan untuk membuat conversational interface atau antarmuka pembicaraan ke aplikasi yang mereka buat. Antarmuka pembicaraan ini bisa muncul dalam bentuk teks atau suara. 

"Chatbot bisa Anda integrasikan dengan call center atau halaman Facebook," kata Klein. "Ini akan menjadi cara baru bagi konsumen untuk berkomunikasi. Melalui chatbot, call center juga bisa dilengkapi dengan intelligent voice response."

Menariknya, Amazon Lex memudahkan perusahaan untuk membuat teknologi layaknya chatbot sendiri, tanpa harus mengembangkan teknologi itu dari nol.

Tidak hanya itu, dengan bantuan beberapa teknologi dari Amazon, perusahaan juga bisa memanfaatkan informasi yang didapat dari konsumen -- seperti keluhan yang disampaikan pada chatbot misalnya -- menjadi insight atau wawasan yang bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan. 


Olivier Klein, Head of Emerging Technologies, Asia Pasifik, AWS. (Medcom.id)

Misalnya, dengan bantuan Amazon Transcribe, perusahaan bisa mentranskrip isi pembicaraan dari panggilan konsumen ke call center. Sayangnya, data transkrip itu masih berupa data kasar yang tidak memiliki konteks.

Data tersebut harus diolah terlebih dulu menggunakan layanan natural languange processing, misalnya Amazon Comprehen NLP, sehingga perusahaan bisa langsung mengetahui bagian penting dari percakapan, seperti sentimen pelanggan, apa yang dibicarakan, dan waktu serta lokasi pembicaraan.

"Dari sini, saya bisa tahu apa yang orang selalu tanyakan. Atau masalah apa yang membuat orang marah. Dan saya akan bisa mencari cara untuk memecahkan masalah tersebut," ujar Klein.

Menariknya, perusahaan tidak harus menggunakan seluruh layanan dari Amazon. Mereka bebas memilih untuk menggunakan layanan yang dirasa perlu. 

"Di AWS, kami melihat semuanya sebagai API yang bisa digunakan secara terpisah atau diintegrasikan dengan API lain untuk mencapai hasil tertentu," ujarnya. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.