Google Berpotensi Didenda Rp152 Triliun di Eropa

Lufthi Anggraeni    •    Sabtu, 09 Jun 2018 11:20 WIB
google
Google Berpotensi Didenda Rp152 Triliun di Eropa
Google berpotensi dikenakan denda berjumlah besar akibat dinilai mendominasi pasar di Uni Eropa.

Jakarta: Google dilaporkan berpotensi menghadapi denda bernilai miliaran dollar AS dari European Commission, setidaknya pada bulan depan.

Google disebut bersalah terkait dengan memanfaatkan dominasinya di Eropa melalui Android, menyebabkan terancam menghadapi denda berjumlah besar tersebut.

Ketua badan Antitrust Uni Eropa Margrethe Vestager menyebut komisinya siap untuk mengumumkan hasil temuan negatif yang dihimpunnya dalam beberapa minggu mendatang.

Komisi ini memiliki wewenang untuk menjatuhkan hukuman denda hingga USD11 miliar (Rp152,7 triliun), berjumlah 10 persen dari pendapatan global Alphabet, induk perusahaan Google.

Namun pada umumnya, sebagian besar hukuman yang diputuskan akan berjumlah lebih sedikit jika dibandingkan dengan kisaran tersebut. Google disebut memiliki daya pikat utama pada sistem operasi Android yang ditawarkan secara gratis.

Badan pengawas Antitrust Uni Eropa tengah menyelidiki peluang pemaksaan yang dilakukan Google kepada produsen ponsel untuk hanya menggunakan layanan karyanya, seperti Chrome dan Search, serta menghalangi perusahaan lain untuk mengembangkan sistem operasi, menggunakan bagian dari sistem open-source yang dimiliki Android.

Sebagai informasi, denda yang dijatuhkan kepada Google ini bukanlah denda berjumlah besar pertama bagi salah satu raksasa berkantor pusat di Silicon Valley ini untuk wilayah Eropa.

Tahun lalu, Google harus membayar denda bernilai USD2,7 miliar (Rp37,5 triliun), akibat permasalahan yang dialami oleh layanan perbandingan harga miliknya.

Sementara itu, Google telah merilis daftar peraturan untuk membantu mereka dalam mengembangkan kecerdasan buatan.

Ini sesuai janji yang mereka buat setelah keterlibatan mereka dalam proyek drone pengawas dari Departemen Perlindungan Dalam Negeri Amerika Serikat menuai kontroversi. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.