Data Biometrik Calon Jemaah Haji Indonesia Harus Dijamin Aman

Cahyandaru Kuncorojati    •    Minggu, 03 Feb 2019 12:02 WIB
teknologicyber security
Data Biometrik Calon Jemaah Haji Indonesia Harus Dijamin Aman
Ilustrasi perekaman data biometrik sidik jari.

Jakarta: Sejak beberapa tahun belakangan, data biometrik terkait sidik jari, foto iris/retina mata, dan wajah, sudah menjadi data diri yang dipercaya dan digunakan oleh beragam negara dalam proses pengajuan visa.

Setiap negara berhak mendapatkan informasi data pribadi, termasuk data biometrik dari warga asing yang berkunjung atau masuk ke negaranya demi alasan keamanan, pengawasan, dan alasan lainnya.

Data biometrik juga sudah digunakan untuk proses pengurusan imigrasi para calon jemaah haji atau umroh asal Indonesia saat akan tiba di Arab Saudi. Kerajaan Arab Saudi juga menyatakan bahwa data biometrik semakin penting dan dibutuhkan.

Mereka mencatat tahun lalu kedatangan lebih dari 2 juta jemaah haji dan ke depannya akan mengalami kenaikan terus menerus baik haji maupun umroh. Diprediksi, jumlah ini akan meningkat mencapai 15 juta di tahun 2022 dan meningkat lagi hingga 30 juta di tahun 2030.

Mengingat data biometrik adalah data pribadi penting maka perlu jaminan akan privasi sekaligus keamanan data ini. Pihak VFS Tasheel penyedia perekaman biometrik menyatakan bahwa mereka menyediakan jaminan privasi dan keamanan data biometrik kemaah haji dan umrah Indonesia sejak 2018 lalu.

VFS Tasheel menyebut sudah menjadi mitra resmi dari Kerajaan Arab Saudi dan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi. "Kerajaan Arab Saudi juga memahami bahwa data ini harus dikelola secara terorganisir dan profesional," ungkap perwakilan VFS Tasheel.

VFS Tasheel mengaku tidak menyimpan data biometrik baik dalam server maupun cloud. Dalam prosesnya, VFS Tasheel mengklaim hanya melaksanakan menggunakan aplikasi perekaman data biometrik milik Arab Saudi dan tersimpan di server negara tersebut.

VFS Tasheel juga menjamin proses ini dilakukan dengan metode enkripsi dua sisi, di sisi perekaman dana dan penerimaan data sehingga tidak akan ada aksi peretasan dan penyalahgunaan data atau identitas calon jemaah haji.

"Kami tidak dapat mengakses data tersebut karena aplikasi dan sistemnya bukan milik kami, melainkan pihak Arab Saudi." VFS Tasheel juga tidak dapat melihat data biometrik tersebut, tapi memastikan data tersebut terkirim sesuai prosedur.

VFS Tasheel juga menyatakan masa berlaku rekam biometrik yang tersimpan yaitu enam bulan sejak proses perekaman data. Sebagai contoh, apabila calon jemaah haji akan berangkat umrah pada Juni 2019, proses perekaman biometrik sudah bisa dilakukan sejak Januari 2019 untuk kebutuhan pengajuan Visa Umrah.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.