Review Film

Black Panther, Hasil Gabungan Teknologi Canggih dan Budaya Afrika

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 23 Feb 2018 17:35 WIB
poptechmarvel cinematic universe
Black Panther, Hasil Gabungan Teknologi Canggih dan Budaya Afrika
T'Challa alias Black Panther.

Jakarta: Setiap kali ada Marvel Studios meluncurkan film baru, saya selalu bertanya; "Kali ini, apa yang akan mereka lakukan untuk membuat film terlihat berbeda dari film-film yang telah ada?"

Pertanyaan itu kembali muncul di benak saya ketika saya hendak menonton Black Panther. Tentu saja, saya tahu kalau Black Panther adalah superhero berkulit hitam pertama yang menjadi tokoh utama dalam Marvel Cinematic Universe.

Namun, selama 10 tahun, MCU telah menampilkan berbagai cerita awal mula seorang superhero, mulai dari Iron Man, Captain America, Thor sampai Spider-Man. 

Bagi saya, satu hal yang membuat Black Panther tampil berbeda adalah kentalnya budaya Afrika dalam ini. Menariknya, Marvel bisa menyatukan beragam budaya Afrika dengan teknologi futuristik super canggih.

Memang, Wakanda, tempat asal Black Panther, dijelaskan sebagai negara yang memiliki teknologi canggih yang tidak ada di negara-negara lain.

Dalam film, Anda akan melihat Wakanda ditampilkan sebagai negara damai yang kaya dan mengisolasi dirinya sendiri demi kedamaian. Berdampingan dengan kereta-kereta canggih, teknologi hologram, Anda akan menemukan warga yang menggunakan kain bercorak khas yang terinspirasi dari budaya asli di negara-negara Afrika. 

Ada banyak hal dalam film Black Panther yang didasarkan pada budaya Afrika yang sebenarnya. Misalnya, Dora Milaje, pasukan pelindung Black Panther yang berisi para petarung wanita disebutkan terinspirasi dari tentara wanita yang ada pada tahun 1600-an di Dahomey, yang kini dikenal dengan nama Republik Benin di Afrika Barat. 


Dora Milaje, pasukan yang melindungi raja Wakanda. 

Black Panther sangat menjaga tradisi dan ritual dari negaranya. Inilah yang membuat T'Challa berbeda dari Tony Stark -- yang juga seorang miliarder -- atau Steve Rogers -- yang juga memiliki kekuatan super -- atau Thor -- yang juga merupakan pangeran mahkota dari tempatnya berasal.

T'Challa menjadi unik karena dia tidak hanya seorang pahlawan, tapi juga seorang raja yang harus bertanggung jawab atas masyarakatnya. 

Selama ini, satu hal yang sering saya keluhkan tentang film MCU adalah tokoh villain yang kurang berkesan. Memang, Loki dari Thor merupakan salah satu karakter yang hingga kini menjadi favorit para penggemar. Namun, belakangan, sang God of Michief lebih terlihat seperti anti-hero daripada villain. 

Black Panther punya villain yang menarik. Ialah Erik Killmonger. Dia punya alasan yang kuat untuk melakukan apa yang dia lakukan. Tidak hanya itu, tujuannya juga tidak jahat: dia hanya ingin melindungi orang-orang berkulit hitam yang selama ini tertindas. Untuk itu, dia rela melakukan apapun. 


Erik Killmonger, villain dalam Black Panther.

Keyakinan seperti ini jarang Anda lihat pada penjahat dalam MCU. Sejujurnya, saya tidak bisa membenci Killmonger. Dia mengingatkan saya pada Magneto dalam seri X-Men, yang juga bertarung untuk membela kaumnya.

Selain villain yang menarik, Black Panther juga didukung dengan banyak karakter pendamping yang menarik. Shuri, adik T'Challa adalah favorit saya. Dia adalah seorang puteri raja. Namun, dia bukanlah wanita yang lemah tak berdaya. Dia adalah seorang jenius yang membuat kostum dan senjata yang T'Challa gunakan. Saya yakin Shuri tidak kalah cerdas dari Tony Stark.

Kecerdasan Shuri bukanlah satu-satunya alasan saya menyukainya. Selain cerdas, Shuri juga iseng. Layaknya adik yang senang menggoda kakak, Shuri juga beberapa kali menggoda T'Challa di layar. Keberadaan Shuri cukup memberikan humor dalam film Black Panther yang lebih serius dari Thor: Ragnarok.


T'Challa dan Shuri ketika mereka melihat kostum Black Panther baru buatan Shuri.

Karakter-karakter pendamping lain dalam Black Panther juga sukses membuat film ini menjadi semakin menarik. Seperti Okoye, sang pemimpin Dora Milaje, Nakia, mata-mata Wakanda yang tak betah di rumah karena ingin menyelamatkan orang-orang di luar Wakanda, dan Everett Ross, pria berkulit putih yang menjadi agen CIA yang kemudian menjadi pendukung T'Challa.


Okoye, Nakia dan seorang Dora Milaje. 

Satu kelemahan dalam film Black Panther, bagi saya, adalah plotnya yang cukup mudah untuk ditebak. Sejak awal, menerka siapa yang akan menjadi apa bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dilakukan. Meskipun begitu, itu bukan berarti film Black Panther tidak menyenangkan untuk ditonton. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.