Kenapa Thor Gagal Kalahkan Thanos di Infinity War?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 11 May 2018 16:29 WIB
poptechmarvel cinematic universeFilm Avengers Infinity War
Kenapa Thor Gagal Kalahkan Thanos di Infinity War?
Thor gagal membunuh Thanos pada akhir Infinity War.

Artikel ingin mengandung spoiler Avengers: Infinity War. 

Jakarta: Salah satu sutradara Avengers: Infinity War, Joe Russo menjelaskan mengapa Thor tidak membunuh Thanos meski dia memiliki kesempatan untuk melakukan itu pada akhir film.

Infinity War dimulai dengan Thanos bersama Black Order membantai setengah dari warga Asgard yang bertahan hidup pada akhir Thor: Ragnarok. 

Meskipun hampir mati, Thor berhasil selamat dan bertemu dengan para Guardians of the Galaxy. Bersama dengan Rocket Raccoon dan Groot, Thor pergi ke Nidavellir, tempat para dwarf. Dia lalu meminta bantuan bantuan Eitri -- satu-satunya dwarf yang ada di Nidavellir -- untuk mendapatkan senjata baru bernama Stormbreaker. 

Setelah mendapatkan Stormbreaker, Thor berhasil mendapatkan kembali kekuatannya, lapor ScreenRant. Pada akhir Infinity War, Thor juga hampir membunuh sang Mad Titan dengan mengarahkan kapaknya ke dada Thanos.

Sayangnya, ini tidak cukup untuk menghentikan Thanos. Sang Mad Titan masih bisa menjentikkan jarinya dan membunuh setengah populasi dari galaksi. Lalu, mengapa Thor tidak mengarahkan kapaknya ke kepala Thanos?

Kepada Comic Book, Russo menjelaskan bahwa alasan Thor tidak mengarahkan kapaknya ke kepala Thanos adalah karena dia ingin membalas dendam. Russo menyebutkan bahwa fans Marvel seharusnya tidak hanya marah pada Star-Lord karena menggagalkan rencana merebut Infinity Gauntlet dari Thanos, tapi juga pada Thor karena tidak langsung membunuh Thanos.

"Saya merasa, para fans seharusnya sama marahnya pada Thor, yang memutuskan melempar kapaknya ke dada Thanos dan bukan kepalanya. Alasannya karena dia ingin memberitahu Thanos bahwa dia berhasil mendapatkan balas dendamnya," kata Russo. 

"Seandainya dia membunuh Thanos langsung, dia tidak akan sempat menjentikkan jarinya. Ini adalah pilihan yang para karakter buat karena mereka merasa sangat sakit hati. Semoga, para penonton bisa belajar untuk berempati dengan karakter-karakter tersebut karena mereka bisa berkembang sepanjang cerita. Cerita bisa mengajarkan kita berbagai hal dan kita harus mencoba untuk melihat setiap pilihan dari perspektif karakter yang membuat keputusan tersebut."


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.