The Last Jedi Oke Ditonton, Tidak Pantas Dipuji

Riandanu Madi Utomo    •    Jumat, 22 Dec 2017 18:29 WIB
filmpoptech
The Last Jedi Oke  Ditonton, Tidak Pantas Dipuji
Kylo Ren di Star Wars Episode VIII: The Last Jedi

Jakarta: Star Wars Episode VIII: The Last Jedi memang sedang mewarnai lini hiburan dunia saat ini. Bahkan perbincangan film ini di linimasa media sosial semakin hangat, apalagi kini pendapat pemirsanya terbagi menjadi dua pihak yaitu pihak yang suka dan tidak suka dengan film ini.

Kondisi ini berbeda dengan The Force Awakens yang hadir hampir tanpa "perselisihan" dan perdebatan rumit seperti yang tenagh terjadi saat ini.

Lantas apakah The Last Jedi merupakan film yang buruk? 

Sejak dirilis minggu lalu di bioskop, saya sudah dua kali menonton The Last Jedi. Dari pengalaman menonton tersebut saya bisa menyimpulkan The Last Jedi bukan sebuah film yang buruk dan masih bisa dinikmati oleh Anda. Meski demikian bukan berarti saya bisa memujinya. Ada beberapa nilai minus yang saya temukan di film ini.

Detail teknis minim

Star Wars memang masih dikategorikan sebagai film fiksi ilmiah, meski tidak serealistis Interstellar atau Gravity. Meski demikian, Star Wars masih bisa menghadirkan konten dengan sajian teknis yang sangat baik. Sajian teknis disini mengacu kepada berbagai fakta sains yang ada hingga saat ini. Meski tidak 100 persen mengacu ke hukum sains, Star Wars bagi saya masih memiliki esensi ilmiah yang kental.

Berbeda dengan seri lainnya, The Last Jedi justru merupakan film Star Wars yang bagi saya hampir tidak memiliki detail teknis tersebut. Bahkan beberapa adegan justru tidak menunjukkan kalau film ini seharusnya masuk ke ranah fiksi ilmiah.

Salah satunya adalah di awal film yang memperlihatkan pesawat pengebom Resistance melepaskan bomnya di atas pesawat Dreadnought milik First Order. Bom yang dilepaskan jatuh ke bawah padahal lokasi pertempuran ada di luar angkasa yang hampirf tidak memiliki gravitasi.



Di Star Wars sebelumnya, peran pesawat pengebom dilakukan oleh Y-Wing menggunakan Proton Torpedo. Berbeda dengan senjata berbasis energi seperti Turbo Laser Cannon yang tidak bisa menembus perisai energi di kapal besar sekelas Star Destroyer, Proton Torpedo di Y-Wing bisa menembus perisai tersebut sehingga sangat cocok untuk menghancurkan kapal besar.

Pertanyaannya kenapa Resistance tidak menggunakan Y-Wing yang sudah terbukti ampuh dan malah menggunakan pesawat pengebom yang mudah diserang? Prediksi saya adalah sang sutradara ingin lebih mendramatisir adegan pengeboman tersebut sehingga Dreadnought terlihat seperti kapal First Order yang mengerikan. 

Selain itu, menggunakan kapal pengebom MG-100 Star Fortress SF-17 dapat membuat penonton lebih bisa mencerna bagaimana sulitnya menghancurkan Dreadnought meski harus mengorbankan detail teknis yang selama ini dipelihara dengan baik.

General Hux sosok lemah

General Hux merupakan salah satu jenderal dan tokoh antargonis utama di The Last Jedi. Ia memang sudah ada sejak The Force Awakens dan digambarkan sebagai salah satu tokoh paling kejam yang ada di First Order. Namun, hal tersebut tidak tergambarkan di The Last Jedi. Hux terlihat sangat bodoh dan sama sekali tidak memiliki kharisma sebagai seorang jenderal sehingga terkesan lemah.



Sosok Hux sangat kontras dengan para jenderal dan petinggi Empire yang kebanyakan memiliki aura protagonis yang sangat kuat. Sebut saja Grand Moff Tarkin yang sempat muncul kembali di Rogue One tahun lalu. Pembawaannya yang tenang, penuh strategi, namun licik dan kejam sangat terlihat meski ia jarang tampil. Lemahnya sosok Hux secara tidak langsung membuat First Order terlihat jauh lebih lemah ketimbang Empire.

Manajemen armada First Order kacau

First Order merupakan kelompok yang ingin mengembalikan cita-cita Empire dalam menguasai galaksi seutuhnya. Kelompok ini digambarkan sama kejamnya dengan Empire dan tidak menunggu untuk membasmi seluruh planet tempat pemerintahan New Republic berada dalam sekali tembak menggunakan senjata Star Killer di The Force Awakens.

Sama seperti Empire, First Order juga memiliki armada tempur besar yang tentu saja lebih kuat dari Resistance yang dipimpin Leia Organa. Namun, bagaimana bisa First Order sampai kewalahan menghancurkan armada Resistance yang jauh lebih kecil dan terpusat? Padahal mereka memiliki banyak kapal besar sekelas Star Destroyer yang bisa mengejar di The Last Jedi? Jawabannya adalah manajemen dan strategi militer yang buruk.

Hal tersebut bisa dilihat sejak awal The Last Jedi diputar terutama saat Dreadnought dihajar habis-habisan oleh Poe hanya dengan menggunakan satu X-Wing. Di sekitar Dreadnought terdapat setidaknya dua Finalizer (kapal kelas Star Destroyer milik First Order) namun keduanya terlihat sama sekali tidak membantu Dreadnought yang diserang. Bahkan First Order bisa saja langsung menghajar Echo of Hope, kapal utama Resistance yang sedang diam menunggu pesawat transportasi dari permukaan planet datang.



Dibandingkan dengan Empire yang berhasil menjebak Home One dan armada Rebellion dalam pertempuran Endor di Episode VI, serta menyudutkan kapal Admiral Raddus di pertempuran Scarrif pada film Rogue One, manajemen armada First Order memang tergolong kacau. Bahkan para komandannya terlihat lambat dalam merespon ancaman serta tidak bisa melakukan manuver yang bisa menyudutkan armada mini milik Resistance.

Sekali lagi ini menunjukkan bahwa The Last Jedi dirancang agar bisa dicerna dengan mudah oleh para penontonnya serta agar terlihat sangat dramatis. Caranya sangat gamblang dan tidak efektif.

Dramatisasi tidak masalah

Banyak yang mengeluhkan The Last Jedi tampil sebagai film yang terlalu dramatis, mulai dari Leia yang bisa selamat dari serangan di anjungan utama Echo of Hope hingga keluhan mengenai sosok Luke Skywalker yang dikatakan terkesan pengecut. Selain itu ada pula yang mengatakan The Last Jedi terlalu banyak candaan padahal film tersebut seharusnya sangat serius.

Saya pribadi tidak melihat ada yang salah dengan beberapa adegan dramatisasi di The Last Jedi. Saya mengerti adegan tersebut ada untuk mengimbangi tren penonton baru yang kebanyakan tidak tahu soal Star Wars klasik. Itu sebabnya saya mengatakan di awal film ini masih layak untuk ditonton.

Yang saya sesalkan adalah sederet "adegan percuma" yang ada di The Last Jedi. Salah satu adegan tersebut adalah ketika Finn dan Rose pergi ke kota Canto Bight untuk mencari pemecah kode yang bisa membawa mereka menyusup ke kapal utama First Order. 



Misi rahasia yang seharusnya menegangkan tersebut berakhir percuma ketika keduanya tertangkap dan pada akhirnya mereka pula yang bukan menyelamatkan Resistance. Tidak hanya itu, sosok pemecah kode pun nasibnya tidak diketahui dan terlihat sebagai karakter tidak berguna, sama seperti Rose.

Ditambah minimnya detail teknis di film ini, saya hanya bisa memberikan impresi "oke" untuk The Last Jedi. Jika Disney ingin Episode IX tampil lebih bagus dengan impresi yang jauh lebih baik, mereka harus menghormati seri film ini. Ingat, Star Wars bukan Avengers, Lucasfilm bukan Marvel, dan Jedi bukan superhero. Cakupan konflik Star Wars harusnya lebih luas, bukan sekadar ke beberapa karakter.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.