536, Tahun Terburuk Bumi

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 19 Nov 2018 17:28 WIB
teknologi
536, Tahun Terburuk Bumi
Ilustrasi.

Jakarta: Tahun terburuk Bumi adalah tahun 536, menurut ahli sejarah Michael McCormick.

Dia merasa, tahun terburuk untuk tinggal di Bumi bukan 1349, ketika Wabah Hitam atau Black Death membunuh setengah populasi Eropa. Bukan pula 1918, tahun ketika flu membunuh sekitar 50 juta sampai 100 juta orang, sebagian besar para generasi muda.

McCormick menjelaskan mengapa dia menganggap tahun 536 adalah tahun terburuk sepanjang sejarah manusia.

"Itu adalah tahun yang memulai periode terburuk bagi manusia untuk hidup, dan juga tahun terburuk," kata McCormick, ahli sejarah dan arkelolog yang menjadi Chairman dari Harvard University Initiative for the Science of the Human Past, lapor Science Mag.

Pada 536, kabur misterius menyelimuti Eropa, Timur Tengah, dan sebagian dari Asia dalam gelap. Selama 18 bulan, kawasan yang ditutupi kabut ini sama sekali tidak mendapatkan cahaya.

"Matahari memberikan cahaya tanpa kehangatan, sama seperti Bulan, selama satu tahun penuh," tulis seorang ahli sejarah Romawi Timur, Procopius.

Suhu pada musim panas turun menjadi sekitar 1,5-2,5 derajat Celcius pada 536, yang merupakan awal dari dekade terdingin selama 2300 tahun. Di Tiongkok, turun salju pada musim panas, panen gagal, dan orang-orang kelaparan.

Sementara di Irlandia, catatan sejarah menyebutkan bahwa adanya kekurangan roti pada tahun 536-539. Kemudian, pada 541, wabah pes menyerang pelabuhan Roma, Pelusium di Mesir.

Wabah yang kemudian dinamai Wabah Yustinianus menyebar dengan cepat, membunuh sepertiga hingga setengah dari populasi bagian Timur dari Kekaisaran Roma dan mempercepat keruntuhannya.

Ahli sejarah memang sudah tahu bahwa pertengahan abad ke-6 adalah waktu kelam yang disebut Zaman Kegelapan.

Namun, selama ini, masih belum diketahui penyebab dari turunnya kabut ini. Pertanyaan ini akhirnya terjawab oleh analisa dari es gletser dari Swiss oleh tim yang dipimpin oleh McCormick dan ahli es gletser Paul Mayewski.

Dalam acara workshop yang diadakan di Harvard, tim itu menjelaskan tentang letusan gunung api di Islandia yang menyebarkan abu ke bagian utara Bumi pada awal 536.

Setelah itu, terjadi dua letusan lain, yaitu pada 540 dan 547. Bencana alam yang terus menerus ini, diikuti dengan wabah, menyebabkan ekonomi Eropa tidak berkembang hingga 640.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.