The Asian Prodigy van Wonosobo Punya Cerita

Fitra Iskandar    •    Selasa, 08 Sep 2015 14:55 WIB
tech and life
<i>The Asian Prodigy van</i> Wonosobo Punya Cerita
Tyovan Ari Widagdo (2009)

LONCENG pulang sekolah berbunyi,  Tyovan langsung keluar gerbang dan berdiri di tepi jalan. Dia menunggu angkot. Tujuannya adalah kantor notaris di kawasan Jalan A. Yani Wonosobo, untuk mengurus izin pendirian CV.  Setiba di sana, staf yang menerimanya malah menertawai Tyovan yang masih mengenakan seragam putih-abu abu itu.

Maklum begitu kejadiannya. Tyovan masih berstatus pelajar, belum cukup umur untuk mempunyai CV. “Kamu pulang saja, belajar yang rajin ya,” kata pegawai di kantor notaris itu. Tyovan akhirnya pulang. Ia kecut sendirian.

Dua pekan setelah itu, Tyovan kembali menyambangi kantor notaris. Namun, Ia memilih kantor lain, bukan yang ia datangi sebelumnya. Giliran ini,  dandannya rapih. Tyovan tidak lagi pakai seragam sekolah.  Akhirnya  ia memang diterima baik. Setidaknya, para pengurus di kantor notaris itu mencoba  memperlakukannya seperti klien pada umumnya.

 “Sebenarnya dari mimik mereka, kelihatannya mereka juga meragukan saya. Apa benar sudah berusia 21 tahun. Tetapi saya sok percaya diri saja,” kisah Tyovan. Ketika itu dia memang sudah mengantongi KTP baru dengan identitas umur yang lima tahun lebih tua, 21 tahun. “Ya dulu itu memang saya mencoba mengakali,” ujar Tyovan tersenyum mengenang kejadian di tahun 2007 itu.

Tyovan memiliki nama panjang, Tyovan Ari Widagdo. Sekarang ia menjabat sebagai CEO Bahaso.com (PT. Bahaso Intermedia Cakrawala), sebuah perusahaan aplikasi sosial media untuk belajar bahasa asing. Sebelumnya, pada 2013, Tyovan menjabat sebagai Country Representative Dolphin Indonesia. Jabatan itu ia dapat setelah kepulangannya dari Amerika.

Beberapa bulan sebelumnya, Tyovan mengikuti Global Tech Competition and ASES Summit 2013.  Dalam ajang yang diikuti peserta dari 38 negara ini, Ia masuk lima besar terbaik. Salah satu hadiahnya, adalah ‘jalan-jalan’ gratis ke Silicon Valley, kawasan di AS yang tersohor di seluruh dunia karena industri teknologinya. Setahun sebelum berkarier di Dolphin, Tyovan pernah mengerjakan sistem aplikasi pelaporan dan koordinasi yang ditanam di iPad Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.




Pada 2015 ini usianya 25 tahun. Sangat muda untuk memimpin sebuah perusahaan IT. Tetapi, bila melihat kebelakang, pencapaian itu seolah sudah berjalan pada jalurnya. Saat belum genap 17 tahun,  ia sudah sanggup merancang aplikasi chatting semacam whatsapp berbasis WAP, yang hanya bisa dipakai di HP Nokia ‘zaman dulu’.  

Ketika masih duduk di kelas bangku SMA, Tyovan pun sudah menjadi direktur perusahaan IT.  Perusahaannya Ia beri nama CV. Vemobo Citra Angkasa. Nama yang sempat membuat notaris penasaran mengenai artinya. ”Saya suka saja nama Vemobo,” kata Tyovan menjawab.

Proyek pertamanya membuat website KPUD Wonosobo. Nilainya Rp25 juta. Proyek itulah yang membuatnya nekat mengurus izin mendirikan CV. Sebelumnya berbagai pesanan-pesanan proyek IT ia garap, tanpa payung resmi.

Mula-mula usaha ia kerjakan sendirian. Tyovan menjadi bos merangkap tukang. Artinya, dari A—Z, roda usahanya ia kerjakan semua.  “Mabuklah pokoknya saya,” kelakar Tyovan, menggambarkan betapa lelahnya dia ketika itu.

Tyovan memulai kariernya di dunia IT benar-benar dari bawah dalam arti sebenarnya. Idenya untuk bergelut di bidang IT muncul berkat terlalu sering duduk di lantai tempat penyewaan PlayStation atau PS. Maklum, penyewaan PS yang rutin ia sambangi memang tidak menyediakan sofa untuk pelanggannya -- termasuk pelanggan yang berkategori setia seperti Tyovan.

“Setiap hari saya main PS setelah pulang sekolah. Ya main Winning Eleven, ya Tony Hawk, wes banyak pokoknya. Itu waktu SMP. Biasanya sehari main dua jam. Uang jajan saya habis untuk main PS. Kemudian lama-lama saya kepikiran, ‘seandainya saya bisa buat game, keren juga ya’.”

Tyovan lebih termotivasi lagi setelah guru seninya di SMP yang bernama Pak Sri bercerita di depan kelas mengenai kegiatannya di luar sekolah yaitu belajar program komputer. Guru itu berpesan agar murid-muridnya juga mempelajari komputer, dan menggunakan internet untuk mengembangkan pengetahuan, bukan cuma Friendsteran, yang saat itu nge-tren. Dari situ, Tyovan tertarik pada komputer. Pertama-tama belajar aplikasi standar, seperti microsoft word dan excel. Pelajaran itu ia dapatkan di sekolahnya.

Saat masa liburan lulus SMP, Tyovan akhirnya mengubah kebiasaan. Bukan lagi rental PS yang ia sering sambangi, tetapi warung internet. Tujuannya satu; mengejar mimpinya untuk menguasai bahasa pemrograman komputer.

“Saya diajak teman ke warnet. Pertama kali buka internet, yang saya buka itu situs porno.”

“ Yang ngajari teman. Aduh, itu konyol banget,” kata Tyovan sambil tertawa-tawa.

Komputer bagi Tyovan kecil merupakan barang yang sulit dijangkau. Sekolahnya mempunyai lab komputer, namun hanya bisa dipakai sesuai jadwal giliran pelajaran. Di luar itu, setelah jam dua siang, ruangan dikunci.

Jadilah warnet sebagai tempat favorit bagi Tyovan merambah dunia maya. Ini membuat isi kantongnya selalu terkuras. Apalagi dengan uang saku dari orangtua yang hanya Rp5 ribu. Untuk sewa internet satu jam pun masih kurang Rp1000.  Karena kendala itu, timbul idenya untuk mengakali mesin tagihan warnet.

Bekalnya adalah ilmu meretas yang ia intip di forum-forum internet. Setelah mencoba-coba ia menemukan cara menjebol sistem tagihan di warnet. Akhirnya ia bisa puas berselancar karena bisa bermain lima jam dengan hanya membayar satu jam. Kebetulan, di Wonosobo sekitar tahun 2007, hanya terdapat dua warnet. Warnet selalu penuh pengunjung, sehingga penjaga warnet, tidak pernah curiga.

“Saya memang sempat tersesat. Saya ikut komunitas-komunitas peretas. Niatnya belajar program eh malah belajar meretas,” ungkapnya. Berbagai kejahilan di dunia maya pernah ia lakukan. Namun setelah itu ia serius mendalami ilmu pengembangan teknologi informasi. Ia ingat lagi ucapan gurunya.

"Saya sudah bosan. Saya terus ingat lagi omongan guru seni waktu masih sekolah di SMP untuk mempelajari program komputer," katanya.




Komputer, laptop, atau gadget yang harganya mahal-mahal, saat ini tidak sulit didapatkan Tyovan Ari Widagdo. Maklum sekarang dia cukup sukses. Setelah menjabat Country Representative Dolphin Indonesia pada 2013, kini ia adalah pemilik Bahaso.com, aplikasi media sosial untuk belajar bahasa asing. Isi koceknya cukuplah untuk menebus barang-barang itu.

Situasinya saat ini kebalikan dengan ketika dia pertama berkenalan dengan dunia digital di masa sekolah. Jalannya lika-liku. Dana yang minimalis, menyita kesabaran dan menuntut ketekunannya dalam mencari peluang bermain komputer.

Ia ingat. Saking ingin bisa selalu main komputer, Tyovan rela mengikuti lomba penyiaran radio di sekolahnya, SMA 1 Wonosobo. Pasalnya, informasi dari pengumuman yang beredar, pemenang lomba itu akan diangkat jadi pengurus radio sekolah. Ruang studio radio dilengkapi komputer dan akses internet. Itulah satu-satunya alasan yang membuat Tyovan niat betul mengikuti lomba.

"Enggak disangka saya juara satu. Otomatis saya jadi ketua, dan ketualah yang pegang kunci ruangan. Saya senang bukan main," papar Tyovan. "Saya siaran saat pulang sekolah, atau sebelum masuk sekolah. Kalau siaran, saya lebih banyak putar lagu, sedikit bicara. Jadinya saya bisa lebih lama main internet,” ceritanya.

Akses ke komputer di ruang radio menjadi seolah tak ada batasnya. Dia sering begadang dan baru pulang usai subuh dari ruangan radio. Akhirnya terlambat sekolah. Itu membuat peringkatnya di kelas ada di zona merah. “Saya juara dua dari belakang, dan satu dari lima siswa di SMA yang dikhawatirkan bisa tidak lulus pada Ujian Nasional,” katanya.

Waktunya di ruang radio sekolah, sampai begadang-begadang itu, ia manfaatkan untuk melakukan riset dan bereksperimen membangun website berita Wonosobo, ewonosobo.com. Ide membuat Website muncul setelah chatting dengan kenalannya di forum internet yang ingin datang ke Indonesia.

“Saya bilang ke Wonosobo saja. Tetapi dia tidak tahu Wonosobo.  Dia tidak banyak mendapat informasi tentang Wonosobo karena informasinya sangat minim di internet. Yang ada hanya di Wikipedia. Itu pun isinya data standar. Wonosobo punya website ketika itu, tetapi tidak bisa diakses. Padahal Wonosobo daerah wisata, ada Dieng dan segala macam yang butuh internet untuk sarana promosi,” ujarnya.

Untuk mengisi materi di website Wonosobo yang bisa dinikmati warga Wonosobo bahkan luar negeri, ia mencari data ke kantor pemerintahan setempat. Namun, permintaan Tyovan untuk mendapatkan data tentang Wonosobo, tidak ditanggapi.

“Ya ternyata enggak gampang. Diribetin. Aku kan pakai seragam sekolah. Sudah ta jelaskan website itu untuk apa, manfaatnya bagaimana untuk promosi pariwisata Wonosobo,mereka tidak ada yang paham.”

Tyovan baru mendapat jalan setelah datang ke humas Pemda. Di sana ia bertemu seorang staf yang melek teknologi informasi dan mengerti dengan misi Tyovan. Staf humas yang bernama Agus Wibowo tersebut antusias membantu mencarikan data-data yang diperlukan Tyovan. Website ewonosobo.com pun jadi. “Modalnya sekitar Rp100 ribu, untuk beli domain dan hosting,” ungkapnya.

Tetapi hanya berumur satu pekan, web tidak bisa diakses.“Saya paham ini ada yang usil. Kemudian saya dibantu untuk ketemu dengan Pak Bupati. Pak Bupati lalu mengumpulkan orang-orang  bagian IT di Pemda. Dia Cuma ngomong, ‘Ini Tyovan. Websitenya mati, tolong dibantu’. Selesai itu, enggak tahu bagaimana, ewonosobo bisa diakses lagi,” tutur Tyovan.

Kemunculan website ini, menjadi tonggak karier Tyovan. Namanya mulai dikenal. Sejumlah media lokal tertarik mengangkat artikel mengenai sosoknya. Dari situ, berbagai proyek-proyek kecil mulai berdatangan, hingga KPUD Wonosobo menjadi kliennya. Nilai proyeknya Rp25 juta.

“Proyek saya kebut tiga minggu. Sampai sering, dalam sehari cuma tidur tiga jam. Saat terima uang, senangnya minta ampun. Enggak pernah lihat uang sebanyak itu,” akunya.

Uang itu kemudian ia pakai beli laptop seharga Rp21 juta. Ia beli di Yogyakarta. Teman sekolahnya heboh, karena pada 2007, belum ada satupun temannya di SMA mempunyai komputer jinjing. Mungkin ada juga motivasi untuk gagah-gagahan, tetapi Tyovan memang memerlukannya untuk bekerja.

“Memang saya pakai buat kerja.  Saya pakai pas waktu jam istirahat sekolah. Kerjanya enggak di studio radio sekolah lagi, karena sudah punya cangkul sendiri,” kata Tyovan.



CSR Moboweb, salah satu grup bisnis Vemobo.

Bisnisnya semakin berkembang. Tyovan kemudian merangkul 15 pegawai untuk menjalankan roda CV Vemobo Citra Angkasa. Dia menyewa kantor sederhana di pinggir jalan kawasan Jalan Bimo, Wonosobo. Bisnis ini belakangan membuatnya sempat ragu untuk kuliah di Jakarta karena khawatir akan kesulitan mengelola usahanya itu. Namun, yang pasti, pilihannya untuk meneruskan pendidikan di jurusan IT sudah bulat.

Kendalanya, bila dihitung-hitung, penghasilan orangtuanya menjual kupat tahu yang hanya sekitar Rp1 juta per bulan, dirasa tidak mencukupi. Toh, orangtuanya tidak mau patah semangat.  “Saya pernah bilang ke bapak, ‘Pak kalau saya lulus sekolah saya mau kuliah’. Ayah saya menjawab,’Wes pokoke isolah (Ya sudah, pokoknya bisalah)’.”

Universitas Gadjah Mada jadi salah satu pilihannya, karena Yogyakarta lebih dekat dengan Wonosobo, ketimbang Jakarta. Tetapi saat ujian masuk, Tyovan mati kutu. Ia merasa tidak mengenali soal-soal yang ada dalam ujian.  Ia pun menjawab sekenanya.” Hitung kancing dan silang indah. Habis itu tiduran saja, karena enggak enak mau keluar duluan.”

 “Saya enggak lulus. Teman saya lulus. Waktu pertama ketemu setelah dia masuk ke UGM, dia menertawai saya. Ternyata dia kasih lihat semacam bulletin di UGM, yang menampilkan liputan serba serbi ujian masuk UGM. Di situ ada foto orang sedang tertidur di meja. Wajahnya enggak kelihatan, tetapi saya tahu itu baju yang saya pakai waktu ujian. Enggak bisa masuk UGM, tetapi masuk majalahnya,” ujar Tyovan tertawa-tawa.

Setelah sempat bimbang,  Tyovan akhirnya memilih kuliah di Jakarta, menimba ilmu di Binus University. Bisnisnya di Wonosobo tetap diurusi, meski harus pulang-pergi Jakarta-Wonosobo sepekan atau dua pekan sekali. Pilihannya ke Jakarta ternyata membawa berkah. Relasinya semakin bertambah, proyek pun berdatangan dari berbagai institusi dan BUMN di ibukota.  “ Di Jakarta saya jadi lebih mengerti bagaimana industri IT,” ujarnya.

Jika saat sekolah di Wonosobo, proyek website ewonosobo.com, menjadi batu loncatan yang mengatrol namanya,  setelah di Jakarta, kompetisi Global Tech Competition and ASES Summit pada 2013 yang digelar Stanford University, membuat namanya dikenal secara internasional. Pergaulannya di komunitas IT dunia pun semakin luas.

Pemuda berperawakan kecil ini mengundang perhatian karena masuk dalam lima besar terbaik pada kompetisi itu. Ia berkesempatan mengunjungi wilayah industri teknologi terkemuka di dunia, Silicon Valley. Kunjungan itu ia manfaatkan untuk berkenalan dengan dedengkot-dedengkot IT, seperti Adam D’angelo (Mantan CTO Facebook,sekarang mendirikan Quora), dan Guy Kawasaki yang merupakan pembuat,  pemodal, dan konsultan bisnis untuk perusahan-perusahaan startup teknologi di Silicon Valley.

Pria yang disebut terakhir itu adalah chief marketing pertama Apple pada tahun 1984 dan menjadi tim inti yang berkerja bersama Steve Jobs.


Tyovan dan Guy Kawasaki

Banyak pelajaran yang ia serap dari perjalanan selama satu bulan di Negeri Paman Sam. “Itu rasanya luar biasa, seperti naik haji saja. Kalau orang Islam naik hajinya ke Makkah, orang IT ke Silicon Valley. Wah itu kayak sebuah cita-cita yang enggak mungkin,” kata Tyovan.

“Setelah eksplorasi di Amerika, ketemu banyak orang IT di sana, pikiran saya terbuka.  Saya bertemu teman baru, dia  mahasiswa juga. Dia bikin apps, dan perusahaannya laku dijual 1 juta dollar.  Saya banyak belajar. Makanya langsung berpikir kalau pulang ke Indonesia harus bikin sesuatu,” ujar Tyovan yang masih menyandang status mahasiswa semester akhir ini.


Tyovan bersama dua temannya di Stanford University (2013).

Tyovan kini bisa tersenyum lebar karena mulai memetik hasil kerja kerasnya sejak usianya masih belasan tahun. Media Jerman Frankfurt Quarterly pada edisi Juni 2014 bahkan memujinya dengan  menyebut Tyovan sebagai “The Asian Prodigy” (Anak Ajaib dari Asia).  YouNoodle tahun 2014 memasukannya dalam 100 Top Global Young Innovator.

Namanya juga sempat dibidik anak perusahaan AirAsia yang bergerak di bidang e-comerce. Ia ditawari posisi sebagai CEO di anak perusahaan milik Tony Fernandes tersebut. Meski berat hati, namun tawaran itu Ia tampik. Tyovan masih memegang cita-cita membangun perusahaan startup sendiri. Ia memilih melanjutkan proyek startupnya, Bahaso.com. 

Apresiasi dari kampung halaman juga bukan main-main. Dia pernah didaulat berbicara sebagai pembicara kunci di atas panggung lapangan alun-alun pada acara peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo 1 Agustus 2015 yang dihadiri ratusan ribu orang.  Dengan itu, pegawai pemda atau kantor notaris mana di Wonosobo yang berani menertawainya lagi?




(FIT)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.