Blibli.com, Raksasa Kalem di Pasar E-Commerce Indonesia

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 07 Oct 2015 16:30 WIB
tech and life
Blibli.com, Raksasa Kalem di Pasar E-Commerce Indonesia
Kusumo saat ditemui di Menara BCA.

Metrotvnews.com: Walau belum terlalu populer, gaya hidup berbelanja atau berdagang secara daring (online) di Indonesia memiliki potensi besar. Karena itu, tak mengherankan apabila ceruk pasar ini kian ramai dengan pemain baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satu pemain menonjol sekaligus terbesar --setidaknya jika kita melihat grup besar di belakangnya-- dari Tanah Air adalah Blibli.com.
 
Bagaimana mereka melihat dan menghadapi peluang dan tantangan e-commerce di tengah-tengah menguatnya persaingan saat ini?

Berdasarkan data Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), selain produk fesyen, konsumen paling banyak membeli perangkat mobile dan elektronik melalui toko daring. Secara kasat mata, kita bisa melihat, masing-masing toko berupaya menojol di bidang ini dengan menjalin kemitraan eksklusif dengan beberapa vendor ponsel. Lazada, misalnya, menjual produk Xiaomi secara eksklusif di Indonesia.

Blibli juga menerapkan strategi yang serupa, walau mereka tampak lebih kalem dibanding Lazada, termasuk pesaing terbarunya, Mataharimall.com.

Beberapa waktu lalu, misalnya, mereka menjadi mitra eksklusif Meizu, perusahaan asal Tiongkok, untuk memasarkan Meizu M2 di Indonesia. Peluncuran M2 di Jakarta bahkan dihadiri langsung oleh Kusumo Martanto, CEO Blibli. Usai acara tersebut, Kusumo menyempatkan diri untuk melayani wawancara bersama Metrotvnews.com. Penampilan Kusumo tak jauh beda dengan Blibli, tenang, berisi, ndak grusa grusu.


Melihat potensi besar
Blibli merupakan salah satu pelaku e-commerce tertua di Indonesia. Ide untuk membuat Blibli pertama kali muncul di tahun 2010. Setahun kemudian, Blibli secara resmi diluncurkan. Kusumo menceritakan, ketika itu, alasannya untuk membentuk Blibli adalah karena melihat adanya potensi besar dalam e-commerce.
 
"Indonesia memiliki penduduk yang banyak, 50 persen di antaranya adalah anak muda, yang telah terbukti cepat beradaptasi dengan teknologi baru," kata Kusumo. "Secara geografis, Indonesia memiliki bentuk yang menyulitkan bagi para penjual karena Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan."

"Masyarakat di luar Jawa kesulitan untuk mendapatkan produk berkualitas dengan harga kompetitif, karena biaya logistik tinggi," katanya.
 
Namun, bukan berarti toko daring tak memiliki hambatan besar. Kita tahu, usaha semacam ini sangat bergantung pada koneksi internet. Celakanya, koneksi internet, khususnya pita lebar, di Indonesia belum merata dan karenanya, masyarakat beralih ke perangkat mobile. Selain itu, dalam pengalaman Blibli, mereka juga terkendala keterbatasan sumber daya manusia.
 
"Ketika itu, bisa dibilang tidak ada orang yang sudah ahli dalam hal e-commerce," kata Kusumo. "Kami lalu membangun SDM dari dalam."

Blibli memulai dari bawah. Mereka melatih karyawan dengan beragam keterampilan, dan bila perlu, mengirimkan mereka ke luar negeri. Di sisi lain, tantangan yang tak kalah besar adalah kepercayaan pelanggan; butuh usaha besar untuk meyakinkan konsumen bahwa belanja daring itu aman. 

Bagaimana Blibli mengatasinya?
 
"Tidak bisa dalam sehari dua hari, setahun dua tahun," kata Kusumo.

Untuk membangun kepercayaan pelanggan, kata dia,  adalah sebuah proses yang harus berlangsung terus-menerus. "Sejak awal hingga sekarang, kami terus melakukannya."
 
Salah satu cara yang Blibli lakukan adalah dengan membangun customer care yang dapat diakses 24/7, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Pada awal berdiri, customer care Blibli hanya melayani pelanggan selama 5 hari seminggu, 8 jam sehari. Perlahan-lahan, angka itu dinaikkan.
 
"Menjadi 5 hari seminggu, 10 jam sehari. Lalu, 6 hari seminggu, 10 jam sehari, lalu akhirnya menjadi 24 jam sehari, 7 hari seminggu," kata Kusumo.
 

Membangun jejaring
Bersamaan dengan upaya meraih hati pelanggan, Blibli juga bergerak paralel dengan melebarkan jejaring ke perusahaan lain yang terkait dengan usaha mereka, terutama perbankang dan logistik. Untuk masalah perbankan, mereka bekerjasama dengan BCA, yang sama-sama berada di bawah kelompok usaha Djarum.

"Di awal-awal, kami juga berusaha untuk mencari penjual yang memang sudah ternama," kata Kusumo. 

Selain itu, mereka berkomitmen untuk tidak menjual barang palsu, sembari mempromosikan gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia.

Pada bulan Januari 2014, idEA melakukan sebuah survei kepada 1.300 masyarakat Indonesia yang tersebar di 12 kota. Berdasarkan survei tersebut, 72 persen responden mengaku alasan mereka berbelanja online adalah karena dapat menghemat waktu.

Sementara itu, 66 persen responden mengaku mereka suka belanja online karena mereka tidak harus keluar dari rumah. Dan 64 persen orang menyebutkan, mereka lebih suka belanja online karena barang belanjaan mereka langsung diantarkan ke rumah mereka.

Beberapa hal lain yang membuat orang berbelanja online adalah karena mereka dapat membandingkan beberapa produk dalam satu waktu, dapat mendapatkan barang yang biasa mereka beli di toko, pelaku e-commerce menawarkan harga yang lebih murah dan pelayanan yang lebih baik dari toko offline.

Survei idEA ini juga melingkupi orang-orang yang pernah berbelanja online tapi tidak kembali melakukannya dalam waktu lama. Berdasarkan survei tersebut, 42 persen responden mengaku alasan mereka enggan kembali berbelanja karena tak yakin dengan kualitas barang. Sementara 40 persen responden mengaku khawatir akan keamanan informasi perbankan yang mereka berikan akan bocor atau dicuri
 
Pelanggan bukanlah satu-satunya elemen penting untuk pertumbuhan perusahaan e-commerce seperti Blibli. Merchant alias penjual juga memiliki peran yang sama sama. Karena itulah, menurut Kusumo, mereka mengganggap penjual yang menggunakan Blibli sebagai platform penjualan sebagai seorang rekan dan bukan sekedar supplier.
 
"Mereka adalah rekan yang setara dengan kami. Kalau supplier kan terkesan seperti mereka itu di bawah kami," kata Kusumo. 


Regulasi yang mendukung
Pemerintah sendiri mulai menunjukkan ketertarikan di industri e-commerce. Pemerintah bahkan membentuk Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif). Sudah pasti, pemerintah juga akan mulai membentuk regulasi mengenai e-commerce. Senada dengan idEA, Blibli ingin regulasi itu semestinya mendukung perkembangan e-commerce
 
"Jika menyulitkan sebaiknya jangan, biarkan pasar yang mengatur." 


(ABE)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.