Lima Asosiasi Bekerja Sama untuk Tentukan Standar Konsumen Online

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 20 Nov 2015 12:56 WIB
internet
Lima Asosiasi Bekerja Sama untuk Tentukan Standar Konsumen Online
Penentuan tolok ukur diharapkan akan meningkatkan belanja iklan digital. (mycity-web.com)

Metrotvnews.com: Penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 29 persen. Diduga, angka ini akan terus meningkat, bahkan hingga melewati Jepang dan Brazil. Meskipun begitu, sebagian besar perusahaan di Indonesia masih memutuskan untuk mengeluarkan belanja iklan ke media-media konvensional seperti TV dan media cetak. 

Untuk meningkatkan pertumbuhan belanja iklan digital, maka lima asosiasi memutuskan untuk bekerja sama untuk menentukan standar pengukuran konsumen online. Kelima asosiasi tersebut adalah Association of Asia Pacific Advertising Media (AAPAM), Asosiasi Perusahaan Pengiklan Indonesia (APPINA), Indonesian Digital Association (IDA), Indonesian E-Commerce Association (idEA), dan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). 

Untuk menentukan standar pengukuran konsumen online, maka kelima asosiasi tersebut membuat sebuah Komite yang akan melakukan evaluasi dari perusahaan yang melakukan pengukuran konsumen online. Evaluasi ini akan didasarkan beberapa kriteria yaitu kelengkapan data, tingkat pelayanan, tingkat kemampuan buatan laporan, dan biaya.

"Inovasi untuk meningkatkan daya saing perlu dasar acuan yang jelas. Karena itulah, inisiatif para pelaku bisnis digital ini perlu didukung penuh dan juga diapresiasi," kata Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Komite mengeluarkan undangan terbuka bagi perusahaan yang relevan untuk ikut serta dalam inisiatif ini. Untuk itu, perusahaan diminta untuk menghubungi Komite sebelum tanggal 1 Desember. Komite lalu akan memberikan waktu kurang lebih 2 bulan bagi pihak perusahaan untuk membuat sebuah presentasi. Setelah satu perusahaan terpilih untuk menjadi tolok ukur, pihak Komite lalu akan melakukan sosialiasi pada kelima asosiasi.

"Saat ini, para agensi pengiklan tidak memiliki alat ukuran yang sama sebagai alat untuk mengevaluasi media periklanan, hal ini akan membuat data yang disajikan menjadi tidak valid," kata Danny Oei Wirianto, co-chairman Komite. "Kami merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk melakukan inisiatif tersebut."


(MMI)