Review Smartphone

iPhone X di Mata Pengguna Android

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 13 Mar 2018 22:48 WIB
applereview gadgetiphone x
iPhone X di Mata Pengguna Android
iPhone X adalah ponsel paling premium dari Apple. (Medcom.id)

Jakarta: Tahun lalu, Apple meluncurkan tiga iPhone sekaligus. Selain iPhone 8 dan 8 Plus yang merupakan penerus dari iPhone 7 dan 7 Plus, perusahaan asal Cupertino itu juga meluncurkan smartphone paling mewahnya, iPhone X sebagai perayaan ulang tahun iPhone yang ke-10. 

iPhone X tidak hanya menarik karena ia merupakan smartphone paling mahal Apple -- yang sejak awal memang sudah diidentikkan dengan smartphone premium (baca: mahal) -- tapi juga karena Apple merombak desain dari ponsel flagship miliknya tersebut.

Perubahan desain membuat Apple untuk membuat beberapa perubahan -- sebagian membuatnya dipuji pelanggan, sebagian yang lain membuatnya dimaki. Apakah iPhone X memang bukti revolusi dalam teknologi smartphone

Ini pengalaman saya sebagai pengguna Android ketika menggunakan iPhone X selama satu bulan. 
 

Desain

Cantik. Itu kesan pertama yang saya dapat ketika saya memegang iPhone X. Tidak bisa dipungkiri, desain iPhone X memang cantik. Ponsel itu terkesan simpel dalam balutan berwarna hitam dengan dua kamera belakang di sudut kiri atas dan logo Apple di bagian tengah. Pada saat yang sama, Anda bisa melihat kesan elegan pada ponsel ini. 

Meskipun pada awalnya Apple berkeras untuk tidak membuat smartphone dengan layar yang semakin besar, pada akhirnya, perusahaan itu pun menyerah dan mengikuti permintaan pasar. iPhone X bisa dibilang memiliki layar yang besar, dengan ukuran layar 5,7 inci. Namun, ponsel ini bisa saya genggam dengan satu tangan dengan mudah.

Menggunakan iPhone X dalam waktu lama dengan satu tangan tidak membuat tangan saya kram -- hal yang sering terjadi ketika saya menggunakan ponsel dengan ukuran 5,5 inci atau lebih. Tidak heran, Apple sukses memangkas rangka pada iPhone X, membuatnya memiliki bodi ringkas dengan layar lebar. 



Keberadaan poni pada iPhone X merupakan salah satu pembicaraan banyak orang. Sebagian orang mengeluhkan keberadaan poni itu karena dianggap mengganggu. Namun, selama saya menggunakan iPhone X, saya tidak merasa keberadaan notch pada bagian atas mengganggu, baik ketika saya menggunakannya secara vertikal atau horizontal. 

Apple merombak desain iPhone X. Salah satu perubahan besar yang terjadi adalah hilangnya tombol home dari bagian bawah ponsel. Ini membuat iPhone X didominasi oleh layar. Untuk masalah tombol, tombol power ada di sebelah kanan dengan tombol volume di sebelah kiri.

Di bagian bawah, terdapat port lightning untuk mengisi baterai. Sama seperti iPhone 7, iPhone X juga tidak dilengkapi dengan port audio. Untuk orang yang masih sering menggunakan jack audio, ketiadaan port itu adalah kekurangan dari iPhone X, terutama karena menghilangkan port audio tidak membuat ponsel menjadi lebih tipis secara signifikan. 



 

Software & Antarmuka

Salah satu alasan iPhone begitu dipuji adalah karena ia mudah untuk digunakan. Sebagai orang yang menggunakan Android bertahun-tahun, ketika menggunakan iPhone X pertama kali, harus saya akui saya kikuk dalam menggunakannya karena tidak terbiasa dengan antarmuka dan gesture untuk mengakses fitur-fitur tertentu. 

Untungnya, membiasakan diri dengan iOS tidak memakan waktu lama karena sistem operasi buatan Apple ini memang simpel. Menariknya, tampaknya yang harus "belajar" menggunakan iOS pada iPhone X bukan hanya pengguna Android seperti saya, tapi juga pengguna iPhone generasi sebelumnya, seperti seorang wartawan CNET.



Alasannya, karena Apple memang membuat beberapa penyesuaian pada sistem operasi iPhone X. Misalnya cara untuk mengambil screenshot. Namun, secara keseluruhan, iOS bisa berjalan dengan sangat mulus. Tidak heran, mengingat Apple bisa mengoptimalkan hardware dan software pada iPhone, lain halnya dengan Android. 

Satu hal yang sedikit membuat saya kecewa adalah ketiadaan fitur split-screen atau multitasking. Fitur tersebut sudah ada pada Android sejak Android Nougat yang diluncurkan pada 2016. Fitur yang memungkinkan Anda untuk membuka dua aplikasi sekaligus tersebut merupakan fitur natif pada Nougat, yang berarti, semua ponsel Android dengan Android Nougat sudah bisa menggunakan fitur tersebut. 

Terbiasa menggunakan fitur split-screen, bahkan pada smartphone Android dengan harga Rp5 juta-an, tidak adanya fitur tersebut pada iPhone X -- dengan harga Rp20 juta-an -- membuat saya kaget. 

 

Performa, Baterai & Fitur

Dari segi spesifikasi, iPhone X mungkin terdengar tidak terlalu wow. Meskipun begitu, performanya bisa sama baiknya dengan smartphone Android kelas atas seperti Samsung Galaxy Note 8. Mulai dari mengetik email, menjelajah internet sampai bermain game, iPhone X menawarkan performa yang mulus. Memang, ketika saya bermain, ponsel sempat terasa agak hangat, tapi tidak sampai menyebabkan ponsel menjadi crash atau game terhenti mendadak. 

Dengan poni di bagian atas, saya sempat khawatir hal ini akan merusak pengalaman menonton video. Namun, ketika saya menggunakan iPhone X untuk menonton video, poni di bagian atas tidak menjadi masalah sama sekali.

Saya tetap bisa menonton video pada keseluruhan layar. Tidak hanya itu, iPhone X juga ponsel pertama buatan Apple yang menggunakan layar OLED, karena itu, gambar yang tampil menjadi sangat jernih. 

Satu hal yang agak mengecewakan adalah baterainya yang kurang awet. Saya tidak bisa menggunakan PCMark untuk menghitung secara pasti berapa lama baterai iPhone X dapat bertahan, tapi, selama penggunaan, saya perlu mengisi baterai ponsel pada akhir hari atau pada sore hari jika ponsel digunakan terus menerus. 

Satu fitur yang hanya ada di iPhone X, setidaknya saat ini, adalah Animoji. Fitur ini memungkinkan Anda untuk membuat sebuah emoji berekspresi layaknya ekspresi Anda. Bagi saya, fitur ini tidak terlalu menarik meski unik. Namun, Animoji cocok untuk Anda yang memang merasa emoji dan stiker yang ada saat ini tidak cukup untuk mengekspresikan diri Anda. 


Contoh Animoji. 

Face ID menggunakan sensor jarak, cahaya ambien, sinar inframerah, flood illuminator, speaker, mikrofon dan kamera depan untuk bisa bekerja. Semua informasi dari sensor dan kamera tersebut akan diproses oleh neural engine dalam prosesor baru Apple, A11 Bionic. Menariknya, selama menggunakan iPhone X, Face ID tetap bekerja bahkan saat digunakan dalam keadaan remang-remang. 

Memang, terkadang fitur ini masih gagal untuk mendeteksi muka saya. Untungnya, ponsel akan memelajari kembali wajah ketika ia gagal mengenali wajah dan saya memasukkan nomor PIN. Itu artinya, ponsel bisa mengenali wajah saya bahkan ketika saya menggunakan headphone, kacamata, ketika saya menguncir rambut atau ketika rambut saya biarkan tergerai. 

 

Kamera

Apple melengkapi iPhone X dengan dua kamera 12MP pada bagian belakang. Hanya karena megapixel dari kamera iPhone tidak terdengar terlalu besar, bukan berarti gambar yang dihasilkan tidak bagus.





Hasil jepretan iPhone X sangat baik, bahkan saat digunakan untuk mengambil foto di dalam ruang gelap atau ketika melakukan zoom. 


Central Park di malam hari.


Di dalam auditorium dengan lampu remang-remang dan zoom 2x. 

Memang, saat saya mengambil foto dengan zoom, jika zoom terlalu besar, maka gambar akan menjadi terlihat grainy. Namun, gambar masih cukup baik. Dengan dua kamera belakang, tidak aneh jika iPhone X dapat mengambil foto dengan efek Bokeh -- latar belakang yang mengabur.



Kali ini, Apple juga membuat agar iPhone X bisa mengambil foto Portrait dengan kamera depan. Sebelum ini, saya sudah mencoba ponsel dengan kamera yang dapat mengambil efek Bokeh, baik dengan kamera depan atau kamera belakang. Biasanya, jika keadaan terlalu gelap, maka ponsel tidak akan bisa mengambil foto Portrait. Lain halnya dengan iPhone X.



Foto Portrait di siang hari. 



Foto Portrait di malam hari. 

Menariknya, ponsel buatan Apple ini tetap bisa mengambil foto dengan efek Bokeh bahkan saat lampu tidak terlalu memadai. Namun, jika Anda menggunakan mode Portrait untuk mengambil selfie bersama, pastikan Anda berdiri berjajar. Karena jika Anda mengambil foto dalam dua baris, kemungkinan, ponsel hanya akan mengenali wajah yang terdapat di depan dan mengaburkan wajah di bagian belakang. 


Foto Portrait di dalam ruangan gelap. 

 

Kesimpulan

Apple iPhone X memiliki performa yang baik. Foto hasil jepretan iPhone X juga cukup baik, meskipun digunakan untuk mengambil foto di tempat remang-remang atau ketika Anda melakukan zoom.

Memang, jika Anda adalah pengguna Android, dibutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan antarmuka iOS. Tapi, tidak dibutuhkan waktu lama untuk membiasakan diri dengan antarmuka iOS. 

Salah satu kelemahan -- jika ini memang bisa disebut sebagai kelemahan -- adalah harganya yang sangat mahal. Bahkan jika dibandingkan dengan Samsung Galaxy S9, Apple iPhone X masih lebih mahal. 
 
  Apple iPhone X
Prosesor Apple A11
RAM 3GB
OS iOS 11
GPU Apple GPU
Memori Internal 256GB
Kamera 12MP (f/1.8) + 12MP (f/2.4) (belakang), 7MP (depan)
Baterai 2.716 mAh
Layar 5,8 inci (2436 x 1125 pixel)
Harga Sekitar Rp20.799.000 

 
9
Apple iPhone X
Plus
  • Desain keren
  • OS ringan
  • Kamera sangat bagus
Minus
  • Mahal
  • Bodi kurang kuat



(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.