Review Gadget

Review Huawei P10 di Indonesia, Raisa Lebih Cocok Memakai Ini

Insaf Albert Tarigan    •    Senin, 13 Mar 2017 06:00 WIB
huaweireview gadgetmwc 2017huawei p10
Review Huawei P10 di Indonesia, Raisa Lebih Cocok Memakai Ini
Huawei meluncurkan P10 dan P10 Plus pada MWC 2017, Barcelona (26/2/2017)

Metrotvnews.com, Jakarta: Keberhasilan menjual lebih dari 10 juta unit P9 dan P9 Plus sepanjang tahun 2016 membuat Huawei dan LEICA tak punya alasan untuk menghentikan kerja sama. Mereka kembali bergandengan tangan merilis Huawei P10 dan P10 Plus di sela-sela pameran Mobile World Congress (MWC), Barcelona, 26 Februari lalu.

Peluncuran seri P10 diliput ribuan jurnalis dari berbagai belahan dunia, hingga beberapa di antaranya –termasuk saya-- tak bisa masuk ke lokasi acara karena sudah penuh. Meski demikian, saya masih bisa mencoba P10 warna biru secara langsung.

?Antrean menuju lokasi peluncuran Huawei P10 di Fira de Barcelona 
Sesudah menguji selama seminggu, saya sangat puas atas ponsel ini. Saya bisa merasakan peningkatan kinerjanya dibanding P9. Dan yang terpenting, nama Leica di bagian kamera belakang membuat kita tak pernah merasa P10 selevel di bawah iPhone 7 dari sisi menimbulkan kesan “Cool”. Menurut saya, selain kualitas produk, Huawei sangat tertolong oleh nama Leica. Tengok saja grup Facebook Huawei Leica Indonesia yang dihuni beberapa pengguna setia Leica. Dengan kata lain, Huawei P9 dan juga P10 berhasil memikat kelas atas, yang selama ini dikuasai secara duopoli oleh Apple dan Samsung.

Menariknya, Huawei juga sukses menyodok kelas menengah-bawah sehingga menempatkan mereka sebagai produsen ponsel terbesar ketiga di dunia pada tahun lalu. Menurut IDC, Huawei berhasil mengirimkan 33,6 juta unit ponsel per kuartal tiga 2016. Sebagai perbandingan, Samsung mengirimkan 72,5 juta unit, sedangkan Apple sebanyak 45,5 juta unit.

Apa beda P9 dan P10?

P10 hadir dengan 2 warna baru: Greenery dan Dazzling Blue, hasil kerja sama Huawei dengan PANTONE. Secara pribadi, saya lebih menyukai versi biru dibanding hijau. Tim desain Huawei juga mengubah desain penutup belakang P10 yang kini lebih enak dipegang, tak membuat sidik jari menempel, dan tak reflektif. Huawei membuat bagian belakang unik ini dengan teknik yang mereka sebut Hyper Diamond-Cut.

Sudut-sudut P10 juga sedikit lebih melengkung dibanding P9, sehingga jadi terasa lebih halus. Sensor sidik jari yang tadinya berada di belakang, kini berpindah ke bagian depan. Letak sensor sidik jari di depan dan belakang sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika diletakkan di depan, Anda akan lebih mudah mengaktifkan ponsel ketika ia terletak di atas meja tanpa perlu mengangkatnya.

Sensor sidik jari P10 lebih istimewa dibanding P9 karena Huawei menambahkan fungsi navigasi: sentuh untuk kembali, sentuh dan tahan untuk mengakses beranda, sapu ke kiri atau kanan untuk melihat aplikasi yang aktif dan sapu ke atas untuk membuka pencarian Google. Jika tak suka cara ini, Anda bisa memunculkan tombol navigasi tradisional secara virtual di layar.

Logo Huawei yang tadinya berada di dekat tombol Home berpindah ke bagian belakang. Sementara colokan USB C, volume, tempat kartu SIM, dan colokan audio masih sama dengan P9. Material bodi P10 merupakan perpaduan antara bahan logam dan kaca. Untuk memudahkan transfer data, Huawei menambahkan NFC.

Fitur tambahan lain yang juga sangat berguna adalah Eye Comfort. Jika diaktifkan, fitur ini akan memblok cahaya biru yang sangat menyilaukan mata. Ini penting jika Anda kerap utak-atik ponsel di ruangan redup, misalnya saat hendak tidur. Fitur semacam ini sudah tersedia di ASUS ZenFone dengan nama Bluelight Filter.

Antarmuka P10 juga berbeda dengan P9 karena sudah menggunakan EMUI 5.1 yang berbasis Android 7.0 Nougat. Kita tahu, Android Nougat sudah dilengkapi fitur Google Assistant, fitur kecerdasan buatan Google yang mirip dengan Apple Siri. Saya tak akan membahas lebih jauh mengenai Google Assistant di artikel ini.

Sementara itu, P9 masih menggunakan EMUI 4.1 yang berbasis Android 6.0 Marshmallow. Pusat notifikasi P10 lebih lengkap dibanding P9. Anda bisa mengakses NFC, Floating Dock, Screen Recorder, Do Not Disturb, Ultra Battery Saver, Eye Comfort dan Flashlight.

Tampaknya, desainer Huawei sedikit terinspirasi dari iPhone ketika merancang EMUI 5.1. Buktinya, mereka menyediakan Floating Dock yang sangat berguna jika Anda mengaktifkan fungsi navigasi pada sensor sidik jari.

Gallery foto pada EMUI 5.1 lebih lengkap dibanding EMUI 4.1 karena keberadaan Discover dan Highlights. Ia secara otomatis menyortir foto pada Gallery berdasarkan tempat dan membuat slideshow secara otomatis. Kita bisa menambahkan musik sebagai latar belakang slideshow tersebut atau sekadar menambahkan teks.

Secara keseluruhan, kualitas pembuatan dan desain P10 sangat rapi dan bagus. Saya senang Huawei membuat kamera belakang tetap rata dengan bodi, sesuatu yang bahkan tak bisa dihindari Samsung, LG, dan Apple.



Kamera belakang P10 masih sama dengan P9 yang menggunakan dual camera Summarit H 1:2.2/27 ASPH hasil kerja sama dengan LEICA. Bukaan lensa Summarit pada P10 adalah F2.2. Jika ingin bukaan lebih lebar, Anda bisa memilih P10 Plus yang dilengkapi lensa Summilux F1.8, setara dengan iPhone 7 Plus.

Untuk yang belum tahu, Summarit merupakan nama salah satu seri lensa LEICA, H berarti lensa khusus untuk Huawei, 2.2 menandakan bukaan dan 27 merujuk pada jarak fokus, dan ASPH (Aspherical Lens Surface).

Sensor dual camera P10 tak lagi identik seperti pada P9. Huawei menambah sensor monochrome menjadi 20MP, sedangkan sensor RGB tetap 12MP. Hasil pengujian DxOMark menyimpulkan kamera P10 adalah salah satu yang terbaik di pasar saat ini. Mereka memberi skor 87, satu poin lebih tinggi dibanding iPhone 7.



DxOMark menyatakan, hasil foto P10 tergolong baik di segala kondisi, termasuk cahaya redup ekstrem, dan bisa memproses warna dengan baik dengan white balance yang akurat.


Ia juga mampu menangkap detail dengan sangat bagus, menghasilkan foto paling tajam yang pernah diuji lembaga tersebut. Selain itu, DxOMark memuji kecepatan autofocus P10 yang andal.



Huawei P10 juga meraih skor tinggi dalam pengujian video karena bisa merekam berkualitas Full HD dengan keceaptan 60fps, dan 2160p pada 30fps. Kecepatan autofocusnya saat merekam video juga lagi-lagi dipuji DxOmark. Kamera belakang P10 juga sudah mampu merekam video beresolusi 4K.



Salah satu favorit saya pada kamera P10 adalah Portrait Mode karena bisa memberikan efek bokeh pada kamera belakang dan depan. Tentu saja, efek ini merupakan hasil kerja peranti lunak, bukan lensa seperti halnya pada kamera tradisional. P10 juga lebih asyik digunakan untuk swafoto sendiri atau beramai-ramai karena bisa zoom-in dan zoom-out secara otomatis agar semua orang terpotret dengan baik.






Performa impresif

Saya mengunduh semua aplikasi yang biasa saya gunakan, termasuk Facebook, Twitter, Path, Flipboard, dan Spotify. Saya juga menyambungkan P10 dengan audio mobil melalui Bluetooth. Semuanya bisa berjalan secara lancar, kecuali aplikasi benchmark 3DMark dan PCMark untuk menguji performa P10. Pada 3DMark, kami tak bisa menguji dengan mode Slingshot. Di P9 dan P10, pengujian baterai menggunakan PCMark selalu gagal.

Masalah semacam ini memang kadang terjadi juga pada ponsel milik vendor lain, dan biasanya yang menyesuaikan diri adalah pengembang aplikasi. Saya sudah menyampaikan kendala ini kepada Futuremark selaku pengembang kedua aplikasi tersebut.

Perfroma P10 tak pernah mengecewakan. Hal ini tak mengherankan karena Huawei melengkapinya dengan prosesor terbaru mereka, HiSilicon Kirin 960 dan RAM 4GB. HiSilicon 960 terdiri-dari 8 inti, di mana 4 di antaranya adalah ARM A73 untuk menangani tugas berat, dan 4 ARM A53 untuk tugas ringan. Berdasarkan database aplikasi pengujian, Kirin 960 merupakan salah satu yang prosesor dengan performa terbaik di pasar.

Bagaimana dengan baterainya?

Agak susah mengukur daya tahan baterai karena ia sangat tergantung pada berbagai macam faktor, termasuk fitur dan aplikasi apa yang kerap kita gunakan, berapa lama kita menggunakannya, apakah kita mengakses WiFi atau tidak dan lain sebagainya. Karena itu, agar lebih adil, kami biasanya mengukur dengan PCMark. Sayangya, pengujian baik pada P9 maupun P10 selalu gagal.
Skor PCMark untuk P9 masih menggunakan versi 1.0 karena pengujian di versi 2.0 selalu gagal.

Dalam penggunaan sehari-hari sebagai jurnalis, saya biasanya hanya perlu mengisi ulang baterai P10 sebanyak satu kali sehari. Saya berangkat kerja dengan kondisi baterai ponsel penuh, dan baru mengisi ulang kembali pada malam hari. Tapi, sekali lagi, hal ini bisa berbeda pada tiap orang. Baterai P10 berkapasitas 3200mAh yang dilengkapi teknologi fast charging.

Sebagai salah satu produsen perangkat jaringan untuk operator global, tidak sulit bagi Huawei untuk membuat ponsel yang sinyalnya bagus. P10 dilengkapi fitur Carrier Aggregation agar koneksinya lebih cepat dan stabil.

Kesimpulan dan Kekurangan

Untuk ponsel kelas atas dengan fitur kamera yang unggul, P10 selayaknya didukung ekosistem yang memadai. Huawei bisa memulainya dengan menyediakan layanan penyimpanan cloud sendiri atau bekerjasama dengan pihak ketiga. iPhone sudah punya iCloud, sedangkan Samsung bekerjasama dengan Dropbox. HTC menawarkan penyimpanan hingga 100GB di Google Drive secara gratis selama 2 tahun. Xiaomi dan ASUS juga sudah memiliki layanan sendiri.

Selain itu, Huawei perlu mempertimbangkan untuk menyediakan pilihan Themes yang lebih beragam. Mereka bisa merancang Themes sendiri atau membukanya buat pengembang seperti yang dilakukan Xiaomi.

Saya sudah menggunakan ponsel dual camera LG, HTC dan iPhone. Menurut saya, Huawei P9 dan P10 adalah yang paling menarik untuk memotret, terutama mode Monochrome yang sangat khas dan kuat. Saat dirilis, harga P9 jauh lebih murah dibanding para pesaingnya. Sementara P10 versi 64GB dan RAM 4GB dijual dengan harga mulai Rp9 jutaan di Eropa. Adapun P10 Plus dibanderol mulai Rp10 jutaan. Informasi yang kami terima, kemungkinan Huawei Indonesia akan mendatangkan kedua ponsel ini ke Tanah Air. Sayangnya, belum ada informasi apa pun terkait harganya.

Saat tiba kembali ke Tanah Air, 2 Maret 2017, Raisa "menyambut" kami di pintu keluar imigrasi. Kesimpulan saya: dengan segala kelebihan dan kekurangan Huawei P10, Raisa lebih cocok memakai ponsel ini. 
 
  Huawei P10
Prosesor HiSilicon 960 
RAM 4GB
OS Android 7.0 Nougat
GPU Mali-G71 MP8
Memori Internal 64GB
Kamera 12MP dan 20 MP Monochrome (belakang), 5MP (depan)
Baterai 3200 mAh
Layar 5,1 inci FHD
Harga 649 Euro (Eropa)
 

Huawei P10

 

9

  • Kamera sangat bagus
  • Performa memuaskan
  • Desain keren
  • Belum ada pilihan penyimpanan Cloud
  • Pilihan themes belum banyak



(ABE)

Samsung Galaxy C9 Pro, Si Bongsor Bodi Mulus
Review Smartphone

Samsung Galaxy C9 Pro, Si Bongsor Bodi Mulus

1 week Ago

Samsung Galaxy C9 Pro hadir dengan layar besar berukuran 6 inci, dengan dukungan RAM dan memori…

BERITA LAINNYA
Video /