Review Peripheral

ASUS ZenScreen MB16A, Monitor Portabel Tipis dan Ringan

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 26 Jan 2018 17:59 WIB
asusreview peripheral
ASUS ZenScreen MB16A, Monitor Portabel Tipis dan Ringan
ASUS ZenScreen MB16AC. (MTVN)

Jakarta: Menggunakan dua layar bisa meningkatkan produktivitas Anda. Namun, itu bukan hal yang mudah dilakukan jika Anda menggunakan laptop. Untungnya, ASUS menyediakan ZenScreen, layar portabel yang bisa Anda hubungkan pada laptop sebagai layar kedua. 

ZenScreen MB16A memiliki ukuran 15,6 inci dengan resolusi Full HD. Monitor portabel buatan ASUS ini memiliki desain ringkas dengan bezel tipis. Tampaknya, perusahaan asal Taiwan itu memang mengusung tema simpel dan elegan, sama seperti laptop lini ZenBook. 

Dengan ketebalan 8mm dan bobot 780 gram, ZenScreen terbilang cukup mudah untuk dibawa berpergian. 



Sayangnya, tingkat kecerahan monitor ini tidak terlalu tinggi. Memang, Anda bisa menggunakannya untuk bekerja atau menonton tanpa ada masalah. Namun, jika Anda bandingkan kecerahan monitor dengan kecerahan layar laptop, maka Anda akan melihat bahwa ZenScreen memiliki tingkat kecerahan yang lebih rendah. 

Meskipun begitu, saya bisa mengerti alasan ASUS untuk membuat kecerahan ZenScreen tidak terlalu tinggi, yaitu utnuk menghemat baterai laptop Anda. 

ASUS melengkapi ZenScreen dengan sebuah cover yang bisa dilipat sebagai penopang layar. Cover monitor ini bisa dilipat menjadi tiga bentuk yang berbeda. Satu hal yang saya sayangkan adalah karena melipat cover ini agak rumit.

Ketika pertama kali saya mencoba untuk memasang cover ZenScreen, saya harus melihat panduannya berkali-kali. Cover ini bisa Anda lipat untuk membuat layar berdiri baik dalam posisi horizontal ataupun vertikal. 



Selain cover, ASUS juga melengkapi ZenScreen dengan sebuah pena. Saya sempat mengira pena tersebut adalah stylus dan ZenScreen merupakan monitor dengan layar sentuh. Tapi saya salah. Pena itu adalah pena biasa yang bisa digunakan untuk mengganjal ZenScreen. Ini membantu Anda yang tidak mau repot untuk mengatur cover agar bisa menjadi tempat sandaran. 



Dari segi desain, ZenScreen memiliki tampilan yang sederhana. Monitor ini hanya memiliki tiga tombol fisik pada bagian bawah. Tombol Power terletak di sebelah kanan bawah, dekat dengan lubang untuk memasukkan pena sementara dua tombol di sebelah kiri bisa digunakan untuk mengatur pengaturan layar. 

Salah satu hal yang saya sukai dari ZenScreen adalah ia kaya akan mode. Anda bisa menyesuaikan mode dari monitor ini dengan apa yang sedang Anda lakukan. Beberapa mode yang ada antara lain, Theater Mode, sRGB Mode, Game Mode dan Reading Mode.



Tidak berhenti sampai di situ, ASUS juga melengkapi monitor portabelnya dengan empat filter Blue Light. Dengan begitu, Anda bisa memastikan bahwa cahaya dari layar tidak akan membuat mata Anda cepat lelah. 

ASUS juga melengkapi ZenScreen dengan beberapa fitur untuk gaming, seperti timer dan crosshair. ZenScreen dapat terhubung ke laptop Anda via port USB Type-C. Untungnya, ASUS melengkapinya dengan adapter sehingga Anda bisa memasangkannya ke laptop yang tidak memiliki port USB Type-C. 

Satu kelemahan lain dari ZenScreen adalah harganya yang cukup mahal. Di Indonesia, harga ASUS ZenScreen sekitar Rp4 juta. 
 
 
 
ASUS ZenScreen MB16AC
Plus
  • Bodi relatif ringan dan tipis
  • Dilengkapi dengan cover yang bisa dijadikan tempat sandaran
  • Koneksi USB Type-C, lengkap dengan adapter
Minus
  • Layar kurang terang
  • Mahal



(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.